Kamis, 15 Juni 2017

Tugas-Artikel Ilmiah



Uji Coba Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica) Sebagai Antidiare pada Anak Dibawah Lima Tahun di Martapura 
(Trials extract of Pegagan Folium (Centella asiatica) as anti diarrhea in Children Under Five y.o in Martapura)

                                Syifa Nadiya 
                    (syifandyaa56@gmail.com)
Jalan Kelapa Sawit 8 Bumi Berkat Kelurahan Sungai Besar Banjarbaru Kalimantan Selatan 70714

ABSTRAK
Pegagan (Centellae asiatica) merupakan salah satu tanaman obat yang digunakan sebagai obat. Salah satu manfaat yang didapat dari pegagan (Centellae asiatica) adalah antibakteri. Manfaat antibakterinya didapatkan karena pegagan (Centellae asiatica) mengandung zat antibakteri, diantaranya adalah saponin, tannin, alkaloid, dan flavonoid. Telah dilakukan penelitian tentang daya hambat ekstrak pegagan (Centellae asiatica) terhadap pertumbuhan Vibrio cholerae secara in vitro, dengan tujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak pegagan terhadap pertumbuhan Vibrio cholerae secara in vitro. Hasil penelitian didapatkan bahwa ekstrak daun pegagan (Centellae asiatica) ternyata tidak dapat menghambat pertumbuhan kuman Vibrio cholerae secara in vitro. Ada atau tidaknya daya hambat ekstrak pegagan terhadap pertumbuhan Vibrio cholerae dalam penelitian tersebut bisa dipengaruhi oleh jenis bakteri yang digunakan, metode pembuatan ekstrak yang dipakai, dan sumber daun pegagan yang digunakan dalam penelitian.
Kata kunci: ekstrak daun pegagan, antidiare, anak dibawah lima tahun

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Daun pegagan (Centella asiatica) adalah salah satu tanaman liar yang sering dijumpai. Mungkin tidak banyak yang tahu khasiat dari tanaman kecil ini. Daun pegagan memiliki ciri daun berbentuk ginjal, tepi daun bergerigi atau beringgit dan batang yang pendek. Tanaman ini berkembang biak dengan cara stolon (geragih), tanaman ini memiliki buah yang kecil dan bergantung. Daun pegagan memiliki banyak jenis diantaranya daun pegagan berwarna merah dan berwarna hijau. Meskipun tanaman liar, daun pegagan mempunyai banyak khasiat yaitu sebagai obat jerawat, antidiare, sebagai penurun demam, dan sebagainya. Bagi orang jawa daun pegagan dijadikan sebagai lalapan walaupun rasanya agak pahit.
Menurut buku Obat-Obat Penting, diare merupakan suatu penyakit yang menyerang organ pencernaan yang disebabkan oleh berbagai faktor. Diare mengakibatkan buang air besar lebih sering, konsistensi feses lebih cair dan terkadang disertai darah. Diare sendiri mempunyai beberapa jenis yang didasarkan dari penyebabnya seperti akibat bakteri, akibat penyakit tertentu, dan akibat obat-obatan semisal golongan digoxin (obat jantung). Diare tidak datang secara mendadak atau tiba-tiba namun ada memiliki gejala seperti buang air yang lebih sering daripada biasanya, konsistensi feses yang lebih cair terkadang disertai darah, feses disertai air yang berwarna putih seperti air cucian beras. Meskipun diare merupakan penyakit yang umum, diare bisa mengakibatkan kematian mendadak yang disebabkan kekurangan air (dehidrasi). Diare bisa dicegah dengan cara memasak ikan atau daging sampai benar-benar matang, menutup makanan agar terhindar dari debu atau lalat, membiasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, tidak membeli minuman atau makanan sembarangan, dan memiliki sanitasi air yang baik di rumah. Walaupun sudah terinfeksi penyakit diare jangan sampai tubuh kehilangan cairan, salah satunya dengan membuat larutan oralit.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap obat tradisional ditandai banyaknya obat tradisional yang beredar di masyarakat. Obat tradisional Indonesia merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang perlu dilestarika, diteliti, dan lebih dikembangkan. Penelitian untuk obat tradisional sudah banyak dilakukan. Banyaknya penelitian terhadap obat-obatan tradisional, diharapkan dapat memajukan pengobatan tradisional. Pegagan merupakan salah satu tanaman obat yang berkhasiat yang sering digunakan untuk pengobatan tradisional, seperti untuk obat antidiare. Namun, penggunaan daun pegagan sebagai antidiare belum terbukti secara ilmiah. Hal ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Nevita Sari dkk. pada tahun 2012 bahwa ekstrak daun pegagan dalam berbagai konsentrasi tidak menghasilkan daya hambat terhadap pertumbuhan kuman penyebab diare yaitu Vibrio cholerae secara in vitro. Faktor yang mempengaruhi  ada atau tidaknya daya hambat ekstrak pegagan (Centella asiatica) terhadap pertumbuhan Vibrio cholerae dalam penelitian tersebut yaitu jenis bakteri yang digunakan, metode pembuatan ekstrak yang dipakai dan sumber daun pegagann yang digunakan dalam penelitian.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, maka dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa zat kimia yang terkandung dalam daun pegagan sehingga dapat digunakan sebagai antibakteri?
2.      Selain sebagai antibakteri, apa khasiat dari daun pegagan ?
3.      Apa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengobati diare ?
4.      Bagaimana cara kerja daun pegagan sebagai obat antidiare ?
C.     Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dapat disimpulkan tujuan penulisan sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui zat kimia yang terkandung dalam daun pegagan sehingga dapat digunakan sebagai antibakteri.
2.      Untuk mengetahui apa saja khasiat dari daun pegagan selain sebagai antibakteri.
3.      Untuk mengetahui cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengobati diare.
4.      Untuk mengetahui cara kerja daun pegagan sebagai antidiare.










BAB II
ISI
 A. Daun Pegagan 
Daun Pegagan memiliki nama ilmiah Centella asiatica merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat dan tumbuh secara liar. Salah satu manfaat yang bisa didapatkan dari pegagan (Centella asiatica) adalah antibakteri. Tanaman ini banyak dijumpai di perkebunan, ladang, tepi jalan, serta pematang sawah. Berasal dari daerah Asia tropik hingga kemudian menyebar ke berbagai negara-negara lain. Nama yang biasa dikenal untuk tanaman ini selain pegagan adalah daun tapak kaki kuda dan antanan.
Sejak dahulu, daun pegagan telah digunakan secara turun-temurun untuk mengobati penyakit kulit, mengatasi gangguan saraf, dan memperbaiki peredaran darah. Bahkan, daun pegagan kerap dikonsumsi sebagai lalapan oleh masyarakat di Jawa Barat. Seiring dengan perkembangan teknologi, daun pegagan kemudian diekstrak dan diolah dalam bentuk teh, kapsul, krim, salep, obat jerawat, dan body lotion. Di beberapa wilayah Indonesia pegagan dikenal dengan beberapa nama lokal, diantaranya pegogo (Aceh), daun kaki kuda (Melayu), ampagaga (Batak), antanan (Sunda), Sarowati (Melaku), bebele (Nusa Tenggara), dan dogauke (Papua). (Mardiana, 2012)
Terna, menahun, tidak berbatang, mempunyai rimpang pendek dan stolon-stolon yang merayap, panjang 10-80 cm, akar keluar dari setiap buku-buku, banyak percabangan yang membentuk tumbuhan baru. Daun tunggal, bertangkai panjang, tersusun dalam rosetakar yang terdiri dari 2-10 helai daun. Helaian daun berbentuk ginjal, tapi bergerigi atau beringgit, kadang berambut, diameter 1-7 cm. Bunga tersusun dalam karangan berupa payung, tunggal atau 3-5 bunga bersama-sama keluar dari ketiak daun, berwarna merah muda atau putih. Buah kecil, bergantung, lonjong, pipih, panjang 2-2,5 mm, baunya wangi, dan rasanya pahit. ( Dalimartha, 2008)
Pegagan mangandung asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecossoside, brahmoside, brahmonoside, brahmic acid, madasiatic acid, hydrocotyline, mesoinositol, centellose, caretonoids, garam mineral (seperti garam kalium, natrium, magnesium, kalium, dan besi), zat pahit vellerine, serta zat samak. Diduga, senyawa glikosida triterpenoida yang disebut asiaticosideberperan dalam berbagai aktivitas penyembuhan penyakit. Asiaticaoside dan senyawaan sejenis juga berkhasiat sebagai antilepra (kusta). (Dalimartha, 2008)
Daun pegagan memiliki rasa manis dan mendinginkan. Bagi dunia kesehatan, daun pegagan berkhasiat untuk membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, dan peluruh kemih (diuretika), penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika), meningkatkan saraf memori, antibakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi, dan stimulan. Khasiat lain dari daun pegagan adalah meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki, mencegah varietas dan salah urat, meningkatkan daya ingat, mental dan stamina tubuh serta menurunkan gejala stres dan depresi. (Mardiana, 2012)
Sifat antibakteri dalam daun pegagan telah teruji secara klinis. Bakteri penyebab infeksi seperti Escherechia coli, Staphylococus aureus, Salmonella thypi, Pseudomanas aeruginosa, dan sejenisnya mampu dihancurkan atau dihambat pertumbuhannya oleh daun pegagan. Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Laorpuksa A. dan kawan-kawan disimpulkan bahwa bakteri penyebab infeksi pada saluran nafas dapat ditumpas dengan ekstrak dari daun pegagan. Sementara itu, Feeling Hebert dalam risetnya menyimpulkan bahwa asiatikosida yang merupakan senyawa aktif daun pegagan mampu menumpas Mycobacterium tuberculosis dan Bacillus leprae.(Mardiana, 2012)
B. Diare 
Diare merupakan gejala dari berbagai penyakit, dalam istilah kedokterannya disebut gastroenteritis. Diare bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Dengan penanganan yang tepat, biasanya penyakit ini bisa hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari. Tetapi pada anak-anak dibawah lima tahun dan orang tua usia diatas 60 tahun, komplikasi diare yaitu dehidrasi, bisa mengancam hidup penderita tersebut. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi sakit perut seperti kram, mencret kadang-kadang berdarah, tinja yang cair dan bernanah, mual, muntah, perut kembung, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, perasaan sakit diseluruh tubuh dan perasaan tidak sehat.
Penyebab utama penyakit diare adalah infeksi bakteri atau virus. Jalur masuk utama infeksi tersebut melalui feses manusia atau binatang, makanan, air, dan kontak dengan manusia. Kondisi lingkungan yang menjadi habitat atau pejamu untuk patogen tersebut atau peningkatan kemungkinan kontak dengan penyebab tersebut menjadi risiko utama penyakit ini. Sanitasi dan kebersihan rumah tangga yang buruk, kurangnya air minum yang aman, dan pajanan pada sampah padat (misalnya, melalui pengambilan sampah atau akumulasi sampah di lingkungan) yang kemudia mengakibatkan penyakit diare. Semua hal ini kemudian sering diasosiasikan dengan fasilitas manajemen sampah dan air yang buruk, prosedur yang aman di dalam sistem persediaan makanan ( misalnya selama manajemen di peternakan, penyimpanan makanan dan penjualan makanan eceran) yang kurang memadai, dan pengendalian polusi lingkungan (misalnya dengan limbah pertanian) yang tidak memadai. Epidemik penyakit diare juga dapat terjadi sebagai akibat dari kejadian polusi atau bencana alam besar, seperti banjir. Musim kemarau tampaknya juga dapat menyebabkan wabah penyakit diare karena bertambahnya kekuatan patogen di saluran air dan kebutuhan akan penyimpanan air rumah tangga ( sering terdapat dalam kondisi yang sangat tidak memadai). (WHO, 2009)
Penyakit diare merupakan suatu masalah yang mendunia. Seperti sebagian besar penyakit anak-anak lainnya, penyakit diare tersebut jauh lebih banyak terdapat di negara berkembang daripada negara maju, yaitu 12,5 kali lebih banyak di dalam kasus mortalitas (WHO/EIP, yang tidak dipublikasikan). Di antara banyak bentuk penyakit diare, yang dihadapi oleh anak-anak berusia dibawah lima tahun (khususnya yang rentan), yang paling parah menurut manifestasi klinisnya dalah kolera, infeksi rotavirus, dan disentri. (WHO, 2009)
Pada tingkatan yang lebih umum terdapat dua indikator efek kesehatan yang dapat mudah diajukan, pertama yang berhubungan dengan angka kematian akibat penyakit diare, dan yang satu lagi dengan angka morbiditas. Namun, sebagai tambahan dibutuhkan indikator ketiga karena penyakit diare secara alami sering terjadi berulang kali dalam interval yang tidak tentu sehubungan dengan jumlah wabah penyakit (sebuah wabah biasanya didefiniskan sebagai suatu kejadian dari dua atau lebih kasus-kasus yang berhubungan dengan penyakit yang sama, atau suatu peningkatan jumlah kasus yang diobservasi melebihi jumlah yang diperkirakan). (WHO, 2009)
Tindakan untuk mengurangi risiko penyakit diare secara nyata harus dtijukan pada lingkungan dan permasalahan sosial yang menciptakan kondisi yang mendukung berkembangnya penyakit. Perbaikan dalam penyediaan air, sanitasi, manajemen smpah, dan kebersihan makanan harus didahulukan. Namun, pada jangka waktu yang singkat terdapat pula kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Respons yang cepat dan efektif menjadi penting karena penyakit diare yang membunuh secara cepat. Angka mortalitas karena diare dapat banyak berkurang jika terapi rehidrasi oral segera dilakukan. (WHO, 2009)
Secara umum, pengobatan tergantung dari penyebab diare tersebut. Tetapi pada setiap kasus diare pengobatan yang diberikan bisa meliputi :
1.      Mengganti cairan yang hilang dengan banyak minum air atau cairan pengganti seperti oralit. Oralit biasanya tersedia di apotek atau puskesmas. Pada kasus dehidrasi yang parah penderita mungkin perlu menginap di rumah sakit untuk mendapat infus cairan.
2.      Antibiotik kalau diketahui penyebab diare tersebut adalah bakteri.
3.      Obat-obatan untuk membunuh parasit bila parasit adalah penyebab diare tersebut.
4.      Kalau penyebab dari diare adalah kuman seperti bakteri atau virus, sebaiknya penderita tidak mengkonsumsi obat antidiare, karena ini bisa menyebabkan kuman tersebut tersimpan di perut dan tidak dikeluarkan.(Krishna, 2013)
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Nelvita Sari dkk. pada tahun 2015 bahwa ekstrak daun pegagan tidak menghasilkan daerah bebas kuman pada pertumbuhan Vibrio cholerae secara in vitro, berarti tidak ada daya hambat ekstrak daun pegagan terhadap pertumbuhan kuman Vibrio cholerae. Faktor yang mempengaruhi ada atau tidaknya daya hambat ekstrak pegagan, antara lain adalah jumlah kandungan zat antibakteri yang dikandung pegagan. Zat antibakteri yang dimaksud adalah saponin, tanin, alkaloid, dan flavanoid. Bakteri yang digunakan digunakan dalam penelitian ini juga menentukan ada atau tidak daya hambat yang ditmbulkan zat antibakteri yang dikandung ekstrak pegagan. Perbedaan strain bakteri menyebabkan perbedaan enzim atau zat lainnya yang dihasilkan oleh bakteri. Perbedaan varietas pegagan, teknik prosesing dan teknik analisis juga berpengaruh terhadap perbedaan hasil penelitian. Perbedaan proses pembuatan ekstrak yang digunakan juga menghasilkan hasil yang berbeda pula. (Sari, 2015)










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan isi diatas, dapat disimpulkan bahwa :
1.      Daun pegagan (Centellae asiatica) merupakan tanaman yang digunakan sebagai obat karena mengandung zat kimia untuk antibakteri.
2.      Selain sebagai antibakteri, daun pegagan dapat digunakan untuk penambah memori dengan takaran pembuatan yang sesuai.
3.      Diare merupakan penyakit yang rentan terjadi pada anak-anak usia dibawah lima tahun.
4.      Penyakit diare terjadi akibat kurang bersihnya lingkungan sekitar, sanitasi air yang kurang memadai, makanan atau minuman yang kurang bersih dan higienis.
5.      Daun pegagan belum terbukti secara ilmiah dapat mengobati diare berdasarkan penelitian yang telah dilakukan.

B.     Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan beberapa saran sebagai berikut :
1.      Meskipun tanaman liar sebaiknya daun pegagan dibudidayakan dan dilestarikan sebagai obat tradisional.
2.      Sebaiknya diadakan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya, pencegahan, dan pengobatan diare.
3.      Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut lagi tentang daya hambat ekstrak daun pegagan terhadap pertumbuhan kuman Vibrio cholerae  menggunakan metode yang berbeda, jenis pegagan yang berbeda, serta menggunakan strain bakteri yang berbeda dari penelitan ini.

Daftar Pustaka
Dalimartha,Setiawan.2008.Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Vol. 2.Niaga Swadaya:Jakarta
Krishna,A.2013.Mengenali Keluhan Anda.Informasi Medika:Jakarta
Mardiana,Lina.2012.Daun Ajaib Tumpas Penyakit.Penebar Swadaya Grup:Jakarta
Sari, N., Rasyid, R., dan Sy, E.(2012).Daya Hambat Ekstrak Daun Pegagan (Centellae asiatica) yang Diambil di Batusangkar terhadap Pertumbuhan Kuman Vibrio cholerae secara In Vitro.Jurnal Kesehatan Andalas(Vol.4 No.1).Prodi:Kedokteran.Universitas Andalas:Padang
WHO.2009.Indikator Perbaikan Kesehatan Lingkungan Anak edisi 1.Apriningsih.Buku Kedokteran EGC:Jakarta.