Uji Coba Ekstrak Daun
Pegagan (Centella asiatica) Sebagai
Antidiare pada Anak Dibawah Lima Tahun di Martapura
(Trials extract of Pegagan
Folium (Centella asiatica) as anti
diarrhea in Children Under Five y.o in Martapura)
Syifa Nadiya
Jalan Kelapa Sawit 8
Bumi Berkat Kelurahan Sungai Besar Banjarbaru Kalimantan Selatan 70714
ABSTRAK
Pegagan (Centellae asiatica) merupakan salah satu tanaman obat yang
digunakan sebagai obat. Salah satu manfaat yang didapat dari pegagan (Centellae asiatica) adalah
antibakteri. Manfaat antibakterinya didapatkan karena pegagan (Centellae asiatica) mengandung zat
antibakteri, diantaranya adalah saponin, tannin, alkaloid, dan flavonoid. Telah
dilakukan penelitian tentang daya hambat ekstrak pegagan (Centellae asiatica) terhadap pertumbuhan Vibrio cholerae secara in
vitro, dengan tujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak pegagan terhadap
pertumbuhan Vibrio cholerae secara in vitro. Hasil penelitian didapatkan bahwa
ekstrak daun pegagan (Centellae asiatica)
ternyata tidak dapat menghambat pertumbuhan kuman Vibrio cholerae secara in
vitro. Ada atau tidaknya daya hambat ekstrak pegagan terhadap pertumbuhan
Vibrio cholerae dalam penelitian tersebut bisa dipengaruhi oleh jenis bakteri
yang digunakan, metode pembuatan ekstrak yang dipakai, dan sumber daun pegagan
yang digunakan dalam penelitian.
Kata
kunci: ekstrak daun pegagan, antidiare, anak dibawah lima
tahun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Daun pegagan (Centella
asiatica) adalah salah satu tanaman liar yang sering dijumpai. Mungkin tidak banyak yang tahu khasiat dari tanaman kecil ini. Daun pegagan memiliki ciri daun berbentuk
ginjal, tepi daun bergerigi atau beringgit dan batang yang pendek. Tanaman ini
berkembang biak dengan cara stolon (geragih), tanaman ini memiliki buah yang
kecil dan bergantung. Daun pegagan memiliki banyak jenis diantaranya daun
pegagan berwarna merah dan berwarna hijau. Meskipun tanaman liar,
daun pegagan mempunyai banyak khasiat yaitu sebagai obat jerawat, antidiare,
sebagai penurun demam, dan sebagainya. Bagi orang jawa daun pegagan dijadikan sebagai lalapan walaupun rasanya agak pahit.
Menurut buku Obat-Obat Penting, diare merupakan suatu
penyakit yang menyerang organ pencernaan yang disebabkan oleh berbagai faktor.
Diare mengakibatkan buang air besar lebih sering, konsistensi feses lebih cair
dan terkadang disertai darah. Diare sendiri mempunyai beberapa jenis yang
didasarkan dari penyebabnya seperti akibat bakteri, akibat penyakit tertentu,
dan akibat obat-obatan semisal golongan digoxin (obat jantung). Diare tidak
datang secara mendadak atau tiba-tiba namun ada memiliki gejala seperti buang
air yang lebih sering daripada biasanya, konsistensi feses yang lebih cair
terkadang disertai darah, feses disertai air yang berwarna putih seperti air
cucian beras. Meskipun diare merupakan penyakit yang umum, diare bisa
mengakibatkan kematian mendadak yang disebabkan kekurangan air (dehidrasi). Diare bisa dicegah dengan cara memasak ikan atau daging
sampai benar-benar matang, menutup makanan agar terhindar dari debu atau lalat,
membiasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, tidak membeli minuman
atau makanan sembarangan, dan memiliki sanitasi air yang baik di rumah.
Walaupun sudah terinfeksi penyakit diare jangan sampai tubuh kehilangan
cairan, salah satunya dengan membuat larutan oralit.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap obat
tradisional ditandai banyaknya obat tradisional yang beredar di masyarakat. Obat
tradisional Indonesia merupakan salah satu warisan budaya bangsa yang perlu dilestarika,
diteliti, dan lebih dikembangkan. Penelitian untuk obat tradisional sudah banyak
dilakukan. Banyaknya penelitian terhadap obat-obatan tradisional, diharapkan
dapat memajukan pengobatan tradisional. Pegagan merupakan salah satu tanaman
obat yang berkhasiat yang sering digunakan untuk pengobatan
tradisional, seperti untuk obat antidiare. Namun, penggunaan daun pegagan
sebagai antidiare belum terbukti secara ilmiah. Hal ini didasarkan pada
penelitian yang dilakukan oleh Nevita Sari dkk. pada tahun 2012 bahwa ekstrak
daun pegagan dalam berbagai konsentrasi tidak menghasilkan daya hambat terhadap
pertumbuhan kuman penyebab diare yaitu Vibrio
cholerae secara in vitro. Faktor yang mempengaruhi ada atau tidaknya daya hambat ekstrak pegagan
(Centella asiatica) terhadap
pertumbuhan Vibrio cholerae dalam
penelitian tersebut yaitu jenis bakteri yang digunakan, metode pembuatan
ekstrak yang dipakai dan sumber daun pegagann yang digunakan dalam penelitian.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, maka
dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa
zat kimia yang terkandung dalam daun pegagan sehingga dapat digunakan sebagai
antibakteri?
2. Selain
sebagai antibakteri, apa khasiat dari daun pegagan ?
3. Apa
cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengobati diare ?
4. Bagaimana
cara kerja daun pegagan sebagai obat antidiare ?
C. Tujuan
Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, maka dapat disimpulkan tujuan penulisan sebagai berikut
:
1. Untuk
mengetahui zat kimia yang terkandung dalam daun pegagan sehingga dapat
digunakan sebagai antibakteri.
2. Untuk
mengetahui apa saja khasiat dari daun pegagan selain sebagai antibakteri.
3. Untuk
mengetahui cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengobati diare.
4.
Untuk mengetahui cara kerja daun pegagan
sebagai antidiare.
BAB II
ISI
A. Daun Pegagan
Daun Pegagan memiliki
nama ilmiah Centella asiatica
merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat dan tumbuh secara
liar. Salah satu manfaat yang bisa didapatkan dari pegagan (Centella asiatica) adalah
antibakteri. Tanaman ini banyak dijumpai di perkebunan, ladang, tepi jalan,
serta pematang sawah. Berasal dari daerah Asia tropik hingga kemudian menyebar
ke berbagai negara-negara lain. Nama yang biasa dikenal untuk tanaman ini
selain pegagan adalah daun tapak kaki kuda dan antanan.
Sejak
dahulu, daun pegagan telah digunakan secara turun-temurun untuk mengobati
penyakit kulit, mengatasi gangguan saraf, dan memperbaiki peredaran darah.
Bahkan, daun pegagan kerap dikonsumsi sebagai lalapan oleh masyarakat di Jawa
Barat. Seiring dengan perkembangan teknologi, daun pegagan kemudian diekstrak
dan diolah dalam bentuk teh, kapsul, krim, salep, obat jerawat, dan body lotion. Di beberapa wilayah
Indonesia pegagan dikenal dengan beberapa nama lokal, diantaranya pegogo (Aceh), daun kaki kuda (Melayu), ampagaga
(Batak), antanan (Sunda), Sarowati (Melaku), bebele (Nusa Tenggara), dan dogauke
(Papua). (Mardiana, 2012)
Terna,
menahun, tidak berbatang, mempunyai rimpang pendek dan stolon-stolon yang
merayap, panjang 10-80 cm, akar keluar dari setiap buku-buku, banyak
percabangan yang membentuk tumbuhan baru. Daun tunggal, bertangkai panjang,
tersusun dalam rosetakar yang terdiri dari 2-10 helai daun. Helaian daun berbentuk
ginjal, tapi bergerigi atau beringgit, kadang berambut, diameter 1-7 cm. Bunga
tersusun dalam karangan berupa payung, tunggal atau 3-5 bunga bersama-sama
keluar dari ketiak daun, berwarna merah muda atau putih. Buah kecil,
bergantung, lonjong, pipih, panjang 2-2,5 mm, baunya wangi, dan rasanya pahit.
( Dalimartha, 2008)
Pegagan
mangandung asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecossoside, brahmoside,
brahmonoside, brahmic acid, madasiatic acid, hydrocotyline, mesoinositol,
centellose, caretonoids, garam mineral (seperti garam kalium, natrium,
magnesium, kalium, dan besi), zat pahit vellerine, serta zat samak. Diduga,
senyawa glikosida triterpenoida yang disebut asiaticosideberperan dalam
berbagai aktivitas penyembuhan penyakit. Asiaticaoside dan senyawaan sejenis
juga berkhasiat sebagai antilepra (kusta). (Dalimartha, 2008)
Daun
pegagan memiliki rasa manis dan mendinginkan. Bagi dunia kesehatan, daun
pegagan berkhasiat untuk membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, dan
peluruh kemih (diuretika), penurun panas (antipiretika), menghentikan
pendarahan (haemostatika), meningkatkan saraf memori, antibakteri, tonik, antispasma,
antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi, dan stimulan. Khasiat lain
dari daun pegagan adalah meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki,
mencegah varietas dan salah urat, meningkatkan daya ingat, mental dan stamina
tubuh serta menurunkan gejala stres dan depresi. (Mardiana, 2012)
Sifat
antibakteri dalam daun pegagan telah teruji secara klinis. Bakteri penyebab
infeksi seperti Escherechia coli,
Staphylococus aureus, Salmonella thypi, Pseudomanas aeruginosa, dan
sejenisnya mampu dihancurkan atau dihambat pertumbuhannya oleh daun pegagan.
Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Laorpuksa A. dan kawan-kawan disimpulkan
bahwa bakteri penyebab infeksi pada saluran nafas dapat ditumpas dengan ekstrak
dari daun pegagan. Sementara itu, Feeling Hebert dalam risetnya menyimpulkan
bahwa asiatikosida yang merupakan senyawa aktif daun pegagan mampu menumpas Mycobacterium tuberculosis dan Bacillus leprae.(Mardiana, 2012)
B. Diare
Diare merupakan
gejala dari berbagai penyakit, dalam istilah kedokterannya disebut
gastroenteritis. Diare bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Dengan penanganan
yang tepat, biasanya penyakit ini bisa hilang dengan sendirinya setelah
beberapa hari. Tetapi pada anak-anak dibawah lima tahun dan orang tua usia
diatas 60 tahun, komplikasi diare yaitu dehidrasi, bisa mengancam hidup
penderita tersebut. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi sakit perut
seperti kram, mencret kadang-kadang berdarah, tinja yang cair dan bernanah,
mual, muntah, perut kembung, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, perasaan
sakit diseluruh tubuh dan perasaan tidak sehat.
Penyebab
utama penyakit diare adalah infeksi bakteri atau virus. Jalur masuk utama
infeksi tersebut melalui feses manusia atau binatang, makanan, air, dan kontak
dengan manusia. Kondisi lingkungan yang menjadi habitat atau pejamu untuk
patogen tersebut atau peningkatan kemungkinan kontak dengan penyebab tersebut
menjadi risiko utama penyakit ini. Sanitasi dan kebersihan rumah tangga yang
buruk, kurangnya air minum yang aman, dan pajanan pada sampah padat (misalnya,
melalui pengambilan sampah atau akumulasi sampah di lingkungan) yang kemudia
mengakibatkan penyakit diare. Semua hal ini kemudian sering diasosiasikan
dengan fasilitas manajemen sampah dan air yang buruk, prosedur yang aman di
dalam sistem persediaan makanan ( misalnya selama manajemen di peternakan,
penyimpanan makanan dan penjualan makanan eceran) yang kurang memadai, dan
pengendalian polusi lingkungan (misalnya dengan limbah pertanian) yang tidak
memadai. Epidemik penyakit diare juga dapat terjadi sebagai akibat dari
kejadian polusi atau bencana alam besar, seperti banjir. Musim kemarau
tampaknya juga dapat menyebabkan wabah penyakit diare karena bertambahnya
kekuatan patogen di saluran air dan kebutuhan akan penyimpanan air rumah tangga
( sering terdapat dalam kondisi yang sangat tidak memadai). (WHO, 2009)
Penyakit
diare merupakan suatu masalah yang mendunia. Seperti sebagian besar penyakit
anak-anak lainnya, penyakit diare tersebut jauh lebih banyak terdapat di negara
berkembang daripada negara maju, yaitu 12,5 kali lebih banyak di dalam kasus
mortalitas (WHO/EIP, yang tidak dipublikasikan). Di antara banyak bentuk
penyakit diare, yang dihadapi oleh anak-anak berusia dibawah lima tahun
(khususnya yang rentan), yang paling parah menurut manifestasi klinisnya dalah
kolera, infeksi rotavirus, dan disentri. (WHO, 2009)
Pada
tingkatan yang lebih umum terdapat dua indikator efek kesehatan yang dapat
mudah diajukan, pertama yang berhubungan dengan angka kematian akibat penyakit
diare, dan yang satu lagi dengan angka morbiditas. Namun, sebagai tambahan
dibutuhkan indikator ketiga karena penyakit diare secara alami sering terjadi
berulang kali dalam interval yang tidak tentu sehubungan dengan jumlah wabah
penyakit (sebuah wabah biasanya didefiniskan sebagai suatu kejadian dari dua
atau lebih kasus-kasus yang berhubungan dengan penyakit yang sama, atau suatu
peningkatan jumlah kasus yang diobservasi melebihi jumlah yang diperkirakan). (WHO,
2009)
Tindakan
untuk mengurangi risiko penyakit diare secara nyata harus dtijukan pada
lingkungan dan permasalahan sosial yang menciptakan kondisi yang mendukung
berkembangnya penyakit. Perbaikan dalam penyediaan air, sanitasi, manajemen
smpah, dan kebersihan makanan harus didahulukan. Namun, pada jangka waktu yang
singkat terdapat pula kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Respons yang cepat
dan efektif menjadi penting karena penyakit diare yang membunuh secara cepat.
Angka mortalitas karena diare dapat banyak berkurang jika terapi rehidrasi oral
segera dilakukan. (WHO, 2009)
Secara
umum, pengobatan tergantung dari penyebab diare tersebut. Tetapi pada setiap
kasus diare pengobatan yang diberikan bisa meliputi :
1.
Mengganti
cairan yang hilang dengan banyak minum air atau cairan pengganti seperti
oralit. Oralit biasanya tersedia di apotek atau puskesmas. Pada kasus dehidrasi
yang parah penderita mungkin perlu menginap di rumah sakit untuk mendapat infus
cairan.
2.
Antibiotik
kalau diketahui penyebab diare tersebut adalah bakteri.
3.
Obat-obatan
untuk membunuh parasit bila parasit adalah penyebab diare tersebut.
4.
Kalau
penyebab dari diare adalah kuman seperti bakteri atau virus, sebaiknya
penderita tidak mengkonsumsi obat antidiare, karena ini bisa menyebabkan kuman
tersebut tersimpan di perut dan tidak dikeluarkan.(Krishna, 2013)
Berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan Nelvita Sari dkk. pada tahun 2015 bahwa ekstrak
daun pegagan tidak menghasilkan daerah bebas kuman pada pertumbuhan Vibrio cholerae secara in vitro, berarti
tidak ada daya hambat ekstrak daun pegagan terhadap pertumbuhan kuman Vibrio cholerae. Faktor yang
mempengaruhi ada atau tidaknya daya hambat ekstrak pegagan, antara lain adalah
jumlah kandungan zat antibakteri yang dikandung pegagan. Zat antibakteri yang
dimaksud adalah saponin, tanin, alkaloid, dan flavanoid. Bakteri yang digunakan
digunakan dalam penelitian ini juga menentukan ada atau tidak daya hambat yang
ditmbulkan zat antibakteri yang dikandung ekstrak pegagan. Perbedaan strain
bakteri menyebabkan perbedaan enzim atau zat lainnya yang dihasilkan oleh
bakteri. Perbedaan varietas pegagan, teknik prosesing dan teknik analisis juga
berpengaruh terhadap perbedaan hasil penelitian. Perbedaan proses pembuatan
ekstrak yang digunakan juga menghasilkan hasil yang berbeda pula. (Sari, 2015)
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan isi diatas,
dapat disimpulkan bahwa :
1. Daun
pegagan (Centellae asiatica)
merupakan tanaman yang digunakan sebagai obat karena mengandung zat kimia untuk
antibakteri.
2. Selain
sebagai antibakteri, daun pegagan dapat digunakan untuk penambah memori dengan
takaran pembuatan yang sesuai.
3. Diare
merupakan penyakit yang rentan terjadi pada anak-anak usia dibawah lima tahun.
4. Penyakit
diare terjadi akibat kurang bersihnya lingkungan sekitar, sanitasi air yang
kurang memadai, makanan atau minuman yang kurang bersih dan higienis.
5. Daun
pegagan belum terbukti secara ilmiah dapat mengobati diare berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan
yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan beberapa saran sebagai
berikut :
1. Meskipun
tanaman liar sebaiknya daun pegagan dibudidayakan dan dilestarikan sebagai obat
tradisional.
2. Sebaiknya
diadakan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya, pencegahan, dan
pengobatan diare.
3.
Sebaiknya dilakukan penelitian lebih
lanjut lagi tentang daya hambat ekstrak daun pegagan terhadap pertumbuhan kuman
Vibrio cholerae menggunakan metode yang berbeda, jenis pegagan
yang berbeda, serta menggunakan strain bakteri yang berbeda dari penelitan ini.
Daftar Pustaka
Dalimartha,Setiawan.2008.Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Vol. 2.Niaga
Swadaya:Jakarta
Krishna,A.2013.Mengenali
Keluhan Anda.Informasi Medika:Jakarta
Mardiana,Lina.2012.Daun Ajaib Tumpas Penyakit.Penebar Swadaya Grup:Jakarta
Sari, N.,
Rasyid, R., dan Sy, E.(2012).Daya Hambat
Ekstrak Daun Pegagan (Centellae asiatica) yang Diambil di Batusangkar terhadap
Pertumbuhan Kuman Vibrio cholerae secara In Vitro.Jurnal Kesehatan
Andalas(Vol.4 No.1).Prodi:Kedokteran.Universitas Andalas:Padang
WHO.2009.Indikator Perbaikan Kesehatan Lingkungan
Anak edisi 1.Apriningsih.Buku Kedokteran EGC:Jakarta.