PERCOBAAN
V
ANTI
DIARE
I.
Tujuan
Percobaan
a.
Mengenal uji anti diare menggunakan metode
proteksi terhadap diare oleh oleum ricini.
b.
Mempraktekkan uji anti diare menggunakan
metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini.
II.
Tinjauan
Pustaka
Diare merupakan suatu gejala klinis dan gangguan
pencernaan yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi, disertai
dengan perubahan konsistensi feses menjadi lebih cair/lembek (Fajrin,2012).
Dalam definisi lain, diare adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak
normal(meningkat) dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair. Diare
selalu diakaitkan dengan dengan gastroenteritis
(radang lambung-usus) karena umumnya diare muncul sebagai akibat adanya
gangguan pada saluran gastro intestinal (Enda,2010).
Secara fisiologi, dalam lambung makanan dicerna
menjadi "bubur" (chymus),
kemudian diteruskan ke usus halus untuk diuraikan lebih lanjut oleh enzim-enzim
pencernaan. Setelah zat-za gizi diresorpsi oleh villi ke dalam darah, sisa chymus yang terdiri dari 90% air dan
sisa makanan yang sukar dicernakan, diteruskan ke usus besar (colon). Bakteri-bakteri yang biasanya
selalu berada di sini (flora)
mencernakan lagi sisa-sisa (serat-serat) tersebut, sehingga sebagian besar
daripadanya dapat diserap pula selama perjalanan melalui usus besar. Airnya
juga diresorpsi kembali, sehingga lambat laun isi usus menjadi lebih padat dan
dikeluarkan dari tubuh melalui tinja (Tjay dan Kirana,2007).
Berdasarkan klasifikasinya, diare dibagi dalam tiga
kelompok yaitu : (Enda,2010)
a.
Berdasarkan adanya infeksi, dibagi atas :
1)
Diare infeksi enteral, yaitu diare
karena infeksi di usus misalnya infeksi bakteri (Vibrio cholera, Eschericia coli, Salmonella, dan Shigella), infeksi virus (Rotavirus dan Enterovirus) dan infeksi parasit (cacing, protozoa, dan jamur).
2)
Diare infeksi parenteral, yaitu diare
karena infeksi di luar usus misalnya infeksi saluran pernafasan.
b.
Berdasarkan lamanya diare, dibagi atas
yaitu :
1)
Diare akut, yaitu diare yang terjadi
secara mendadak yang segera berangsur sembuh pada seseorang yang sebelumnya
sehat. Diare akut biasanya berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu.
2)
Diare kronis, yaitu diare yang timbul
perlahan-lahan berlangsung 2 minggu atau lebih, baik menetap atau bertambah
hebat.
c.
Berdasarkan penyebab terjadinya diare,
dibagi atas :
1)
Diare spesifik, yaitu diare yang
disebabkan oleh adanya infeksi misalnya infeksi yang disebabkan oleh virus,
bakteri, parasit dan enterotoksin.
2)
Diare non spesifik, yaitu diare yang
tidak disebabkan oleh adanya infeksi misalnya alergi makanan atau minuman (intoleransi), gangguan gizi, kekurangan
enzim, dan efek samping obat.
Secara
umum diare disebabkan karena gangguan transport air dan elektrolit di usus.
Dari sudut pandang mekanik, diare dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu
adanya peningkatan tekanan osmotik di dalam usus yang menyebabkan retensi air
di dalam lumen, sekresi elektrolit dan air yang berlebihan ke dalam lumen usus
(Oktaviani,2016).
Pengobatan
diare dibagi dalam dua kelompok, yaitu : (Enda,2010)
a.
Pengobatan spesifik, dilakukan dengan
memberikan obat-obat kemoterapeutik setelah diketahui penyebab yang pasti
melalui pemeriksaan laboratorium.
b.
Pengobatan non spesifik, dilakukan
dengan mengurangi peristaltik otot polos usus, menciutkan selaput lendir usus (astringensia), menyerap racun dan toksik
(adsorbensia) dan memberikan cairan
elektrolit.
Kelompok
obat yang sering kali digunakan pada diare adalah : (Tjay dan Kirana,2007)
a.
Kemoterapeutika untuk terapi kausal,
yakni memberantas bakteri penyebab diare, seperti antibiotika, sulfonamida, dan
senyawa kinolon.
b.
Obstipansia untuk terapi simtomatis,
yang dapat menghentikan diare dengan beberapa cara, yakni :
1)
Zat-zat penekan peristaltik sehingga
memberikan lebih banyak waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa
usus, yakni candu dan alkaloidanya, derivat petidin (loperamida), dan
antikolinergika (atropin, ekstrak belladonna).
2)
Adstringensia, yang menciutkan selaput
lendir usus, misalnya asam samak (tanin) dan tannalbumin, garam-garam bismut
dan aluminium.
3)
Adsorbensia, misalnya karbo adsorben
yang pada permukaannya dapat menyerap (adsorpsi) zat-zat beracun yang
dihasilkan oleh bakteri atau yang adakalanya berasal dari makanan (udang,
ikan).
c.
Spasmolitika, yakni zat-zat yang dapat
melepaskan kejang-kejang otot yang seringkali mengakibatkan nyeri perut pada
diare, contohnya papaverin.
III.
Metode
Percobaan
3.1.
Alat
a. Alat
gelas
b. Baskom
c. Spuit
1 mL
d. Kertas
saring
e. Timbangan
3.2.
Bahan
a.
Loperamid
b.
Oleum ricini
c.
Na-CMC
d.
Ekstrak Bawang Dayak
3.3.
Hewan
Uji
Mencit
jantan atau betina
3.4.
Cara
Kerja
![]() |
IV.
Hasil
Praktikum
4.1.Perhitungan
a. Loperamid
Berat
tablet = 160 mg ; Dosis = 2 mg
-
Dosis untuk mencit 20 gram = 2 mg x
0,00261 = 0,00522 mg
-
Dosis untuk mencit 35 gram = 
Larutan stok maksimal
untuk i.p.
Jadi, 7,308 mg
dilarutkan dalam air sampai 10 mL.
Volume Pemberian
-
Mencit 1 (BB 28,54 gram)
-
Mencit 2 (BB 28,34 gram)
-
Mencit 2 (BB 25,25 gram)
b. Ekstrak
Bawang Dayak
-
Dosis untuk mencit 20 gram adalah 13 mg.
-
Dosis untuk mencit 35 gram adalah 
Larutan
stok maksimal per oral
Volume
Pemberian
-
Mencit 1 (BB 23,22 gram)
-
Mencit 2 (BB 23,50 gram)
-
Mencit 3 (BB 23,66 gram)
c. Ekstrak
Bawang Dayak
-
Dosis untuk mencit 20 gram adalah 26 mg.
-
Dosis untuk mencit 35 gram adalah 
Larutan
stok maksimal per oral
Volume
Pemberian
-
Mencit 1 (BB 24,45 gram)
- Mencit
2 (BB 24,34 gram)
- Mencit
3 (BB 24,12 gram)
4.2.Data
Hasil Percobaan
|
Kelompok
|
No.
|
Bahan
Obat
|
BB
|
Vol.
(mL)
|
Cara
Pemberian
|
Amati
|
Waktu
(menit)
|
|||
|
15
|
30
|
45
|
60
|
|||||||
|
1
|
1
|
Loperamid
|
28,54
g
|
0,8
mL
|
i.p.
|
Konsistennsi
Frekuensi
diare
Bobot
Feses
|
Lembek
2
0,06
gram
|
-
-
|
-
-
|
-
-
|
|
2
|
28,34
g
|
0,8
mL
|
i.p
|
Konsistennsi
Frekuensi
diare
Bobot
Feses
|
Padat
1
0,01
gram
|
-
-
|
-
-
|
-
-
|
||
|
3
|
25,25
g
|
0,72
mL
|
i.p.
|
Konsistennsi
Frekuensi
diare
Bobot
Feses
|
Padat
1
0,01
gram
|
-
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
||
|
2
|
1
|
Ekstrak
Bawang Dayak
|
23,22
g
|
0,7
mL
|
i.p.
|
Konsistennsi
Frekuensi
diare
Bobot
Feses
|
-
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
|
2
|
23,50
g
|
0,7
mL
|
i.p.
|
Konsistennsi
Frekuensi
diare
Bobot
Feses
|
Padat
1
0,01
gram
|
-
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
||
|
3
|
23,66
g
|
0,7
mL
|
i.p.
|
Konsistennsi
Frekuensi
diare
Bobot
Feses
|
Padat
1
0,02
gram
|
-
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
||
|
3
|
1
|
Ekstrak
Bawang Dayak
|
24,45
g
|
0,6
mL
|
i.p.
|
Konsistennsi
Frekuensi
diare
Bobot
Feses
|
Lembek
1
0,08
gram
|
-
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
|
|
24,34
g
|
0,6
mL
|
i.p.
|
Konsistennsi
Frekuensi
diare
Bobot
Feses
|
Padat
1
0,03
gram
|
-
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
||
|
|
24,12
g
|
0,6
mL
|
i.p.
|
Konsistennsi
Frekuensi
diare
Bobot
Feses
|
Padat
1
0,01
gram
|
-
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
||
|
4
|
1
|
Na-CMC
|
25,86
g
|
0,5
mL
|
Oral
|
Konsistennsi
Frekuensi
diare
Bobot
Feses
|
Padat
4
0,14
gram
|
Cair
-
0,11
gram
|
Cair
-
0,9
gram
|
-
-
-
|
|
2
|
31,12
g
|
0,5
mL
|
Oral
|
Konsistennsi
Frekuensi
diare
Bobot
Feses
|
Padat
1
0,03
gram
|
Cair
-
0,15
gram
|
-
-
-
|
-
-
-
|
||
|
3
|
28,34
g
|
0,5
mL
|
Oral
|
Konsistennsi
Frekuensi
diare
Bobot
Feses
|
-
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
-
-
-
|
||
4.3.Data
Hasil Uji Analisis Statistik
|
Test of Homogeneity of Variances
|
||||
|
|
Levene Statistic
|
df1
|
df2
|
Sig.
|
|
konsentrasi
|
5,333
|
3
|
8
|
,026
|
|
frekuensi
|
6,381
|
3
|
8
|
,016
|
|
bobot
|
1,684
|
3
|
8
|
,247
|
Hasil
dari data Test of Homogenity of Variance sig
adalah 0,
|
Hasil dari data Test of Homogenity of Variance untuk konsentrasi sig adalah 0,026
yaitu <0,05 maka data varian tidak terdistribusi homogen. untuk frekuensi
sig adalah 0,016 yaitu <0,05 maka data varian tidak terdistribusi homogen.
Untuk bobot sig adalah 0,247 yaitu >0,05 maka data varian terdistribusi secara
homogen.
Tests of Normalityb,c,d,e
|
|||||||
|
|
Bahan obat
|
Kolmogorov-Smirnova
|
Shapiro-Wilk
|
||||
|
|
Statistic
|
df
|
Sig.
|
Statistic
|
df
|
Sig.
|
|
|
konsentrasi
|
loperamide
|
,385
|
3
|
.
|
,750
|
3
|
,000
|
|
ekstrka bawang dayak 26 mg
|
,385
|
3
|
.
|
,750
|
3
|
,000
|
|
|
Na CMC
|
,385
|
3
|
.
|
,750
|
3
|
,000
|
|
|
frekuensi
|
loperamide
|
,385
|
3
|
.
|
,750
|
3
|
,000
|
|
Na CMC
|
,253
|
3
|
.
|
,964
|
3
|
,637
|
|
|
bobot
|
loperamide
|
,385
|
3
|
.
|
,750
|
3
|
,000
|
|
ekstrka bawang dayak 26 mg
|
,175
|
3
|
.
|
1,000
|
3
|
1,000
|
|
|
Na CMC
|
,175
|
3
|
.
|
1,000
|
3
|
1,000
|
|
|
a. Lilliefors Significance Correction
|
|||||||
|
b. konsentrasi is constant when Bahan obat = ekstrak bawang
dayak 13 mg. It has been omitted.
|
|||||||
|
c. frekuensi is constant when Bahan obat = ekstrak bawang dayak
13 mg. It has been omitted.
|
|||||||
|
d. frekuensi is constant when Bahan obat = ekstrka bawang dayak
26 mg. It has been omitted.
|
|||||||
|
e. bobot is constant when Bahan obat = ekstrak bawang dayak 13
mg. It has been omitted.
Hasil dari data Test of
Normality untuk konsentrasi obat loperamid, ekstrak bawang dayak 26 mg,
dan Na-CMC sig adalah 0,000 yaitu <0,05 maka data tidak terdistribusi
secara normal. Untuk frekuensi obat loperamid sig adalah 0,000 yaitu <0,05
maka data tidak terdistribusi secara normal, sedangkan Na-CMC sig adalah 0,637
yaitu >0,05 maka data terdistribusi secara normal. Untuk bobot obat loperamid sig adalah 0,000
yaitu <0,05 maka data tidak terdistribusi secara normal, sedangkan ekstrak
bawang dayak 26 mg dan Na-CMC sig adalah 1,000 yaitu >0,05 maka data
terdistribusi secara normal.
|
|||||||
|
Test Statisticsa,b
|
|||
|
|
konsentrasi
|
frekuensi
|
bobot
|
|
Chi-Square
|
9,500
|
8,744
|
9,881
|
|
df
|
3
|
3
|
3
|
|
Asymp.
Sig.
|
,023
|
,033
|
,020
|
|
a.
Kruskal Wallis Test
|
|||
|
b.
Grouping Variable: Bahan obat
|
|||
Hasil uji yang didapat
pada Kruskal Wallis Test untuk
konsentrasi sig adalah 0,023 yaitu <0,05
maka data tidak dapat diterima. Pada frekuensi sig adalah 0,033 yaitu <0,05
maka data tidak dapat diterima. Pada bobot sig adalah 0,020 yaitu <0,05 maka
data tidak dapat diterima.
V.
Pembahasan
Pada praktikum dilakukan percobaan
uji antidiare pada mencit dengan menggunakan metode proteksi oleh oleum ricini.
Obat yang digunakan adalah Loperamid HCl 2 mg dan ekstrak dari bawang dayak. Dalam
percobaan ini kontrol negatifnya adalah Na-CMC, dan juga masing-masing mencit
diberi oleum ricini secara oral dengan dosis 0,75 mL/35 g BB. Pemberian oleum
ricini dapat menyebabkan diare karena oleum ricini mengandung trigliserida asam
risinolat yang dihidrolisis di dalam usus halus oleh lipase pankreas menjadi
gliserin dan asam risinolat sebagai cairan dan elektrolit serta menstimulasi
peristaltik usus. Loperamid HCL berkhasiat sebagai obat antidiare dengan
bekerja memperlambat proses peristaltik usus sehingga mengurangi frekuensi
defekasi dan memperbaiki konsistensi feses.
Dari percobaan didapatkan hasil
pada kelompok yang diberi obat loperamid HCl pada 15 menit pertama menghasilkan
frekuensi diare dengan total 3 kali, berkonsistensi padat, dan memiliki total
bobot feses untuk 3 mencit 0,08 gram dan pada 15 menit selanjutnya tidak
menghasilkan feses lagi. Sedangkan kelompok yang diberi ekstrak bawang dayak
menghasilkan frekuensi diare rata-rata sebanyak 1 kali dengan konsistensi padat
dan memiliki total bobot feses untuk 6 mencit 0,15 gram. Pada kelompok yang
diberi Na-CMC 15 menit pertama menghasilkan frekuensi diare sebanyak 5 kali,
berkonsistensi padat, dan memiliki total bobot feses untuk 3 mencit 0,17 gram.
Tetapi pada 15 menit kedua konsistensi feses menjadi cair dan total bobot feses
0,26 gram.
Pemberian mencit dengan Loperamid
HCl dan ekstrak bawang dayak 15 menit berikutnya tidak menghasilkan feses lagi
hal ini dikarenakan pengaruh dari Loperamid HCl yang akan menurunkan motilitas
usus yang meningkat karena oleum ricini.
Penggunaan obat tradisional ekstrak
bawang dayak lebih cepat mengobati diare karena bawang dayak memiliki kandungan
tanin yang dapat berfungsi untuk mengobati diare dengan cara menghambat cairan
yang keluar dan masuk dari usus. Selain itu dapat juga untuk penawar racun.
Pada uji statistik dilakukan uji
homogenitas, normality, dan kruskal dimana untuk hasil homogenitas menghasilkan
sig yang berbeda-beda tiap parameter yang diamati, untuk konsentrasi sig adalah 0,026 yaitu <0,05, untuk
frekuensi sig adalah 0,016 yaitu <0,05, untuk bobot sig adalah 0,247 yaitu
>0,05.
Hasil dari normality menghasilkan sig yang berbeda-beda, untuk konsentrasi obat loperamid, ekstrak bawang dayak 26 mg, dan
Na-CMC sig adalah 0,000 yaitu <0,05, untuk frekuensi obat loperamid sig
adalah 0,000 yaitu <0,05, sedangkan Na-CMC sig adalah 0,637 yaitu >0,05 untuk
bobot obat loperamid sig adalah 0,000 yaitu <0,05, sedangkan ekstrak bawang
dayak 26 mg dan Na-CMC sig adalah 1,000 yaitu >0,05.
Hasil dari uji kruskal
didapatkan nilai sig yang berbeda-beda, untuk konsentrasi sig
adalah 0,023 yaitu <0,05, pada
frekuensi sig adalah 0,033 yaitu <0,05, pada bobot sig adalah 0,020 yaitu
<0,05.
VI.
Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat
ditarik kesimpulan bahwa :
1.
Penentuan efek antidiare pada percobaan
ini dilakukan dengan cara menginduksi oleum ricini pada mencit, kemudian
diberikan obat sesuai dengan perlakuannya.
2.
Pemberian obat tradisional ekstrak
bawang dayak lebih cepat mengobati diare karena terkandung di dalamnya tanin
yang berfungsi menghambat cairan yang keluar masuk dari usus, selain itu
sebagai penawar racun.
3.
Untuk hasil homogenitas menghasilkan sig
yang berbeda-beda tiap parameter yang diamati, untuk konsentrasi sig adalah 0,026 yaitu <0,05, untuk
frekuensi sig adalah 0,016 yaitu <0,05, untuk bobot sig adalah 0,247 yaitu
>0,05.
4.
Pada obat loperamid hasil normality untuk
konsentrasi, frekuensi dan bobot nilai sig 0,000
yaitu <0,05.
5.
Pada obat ekstrak bawang
dayak 26 mg hasil normality untuk konsentrasi nilai sig adalah 0,000 yaitu
<0,05 dan untuk bobot nilai sig adalah 1,000 yaitu >0,05.
6.
Pada Na-CMC hasil normality
untuk konsentrasi nilai sig adalah 0,000 yaitu <0,05, untuk frekuensi nilai
sig adalah 0,637 yaitu >0,05, dan untuk bobot nilai sig adalah 1,000 yaitu
>0,05.
7. Hasil
uji yang didapat pada Kruskal Wallis Test
untuk konsentrasi sig adalah 0,023 yaitu
<0,05 maka data tidak dapat diterima. Pada frekuensi sig adalah 0,033
yaitu <0,05 maka data tidak dapat diterima. Pada bobot sig adalah 0,020
yaitu <0,05 maka data tidak dapat diterima.
DAFTAR
PUSTAKA
Enda,W.G.2010.Uji Efek Antidiare Ekstrak Etanol Kulit
Batang Salam (Syzygium Polyanthum) Terhadap Mencit Jantan.Skripsi.Universitas
Sumatera Utara:Medan
Fajrin,F.A.2012.Aktivitas Antidiare Ekstrak Etanol Daun
Seledri (Apium graveolens) Pada Mencit Jantan.Pharmacy.Vol.9(1)
Oktaviani,L.2016.Uji Antidiare Ekstrak Rimpang Rumput Teki
(Cyperus rotundus) Dibandingkan dengan Obat Attapulgite Pada Mencit Jantan yang
Diinduksi Oleum Ricini.Skripsi.Universitas Lampung:Bandar Lampung
Tjay,T.H.,dan
Kirana R.2007.Obat-Obat Penting.Gramedia:Jakarta
