PERCOBAAN
II
ANALGETIKA
I.
Tujuan
Percobaan
1.1.Mengenal
metode uji daya analgetik pada hewan percobaan dan obat analgetik.
1.2.Mempraktekkan
metode uji daya analgetik pada hewan percobaan dan obat analgetik.
1.3.Membandingkan
metode uji daya analgetik pada hewan percobaan dan obat analgetik.
II.
Tinjauan
Pustaka
Analgetika atau
obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri
tanpa menghilangkan kesadaran (perbedaan dengan anestetika umum). Nyeri adalah
perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman, berkaitan dengan (ancaman)
kerusakan jaringan. Keadaan psikis sangat mempengaruhi nyeri, misalnya emosi
dapat menimbulkan sakit (kepala) atau memperhebatnya, tetapi dapat pula
menghindarkan sensasi rangsangan nyeri. Batas nyeri untuk suhu adalah konstan,
yakni pada 44-45oC(Tjay,2007).
Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya
merupakan suatu gejala yang berfungsi melindungi tubuh. Nyeri harus dianggap
sebagai isyarat bahaya tentang adanya ganguan di jaringan, seperti peradangan,
infeksi jasad renik, atau kejang otot. Nyeri yang disebabkan oleh rangsangan
mekanis, kimiawi atau fisis dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan.
Rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut mediator
nyeri. Mediator nyeri antara lain dapat mengakibatkan reaksi radang dan
kejang-kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujung saraf bebas di kulit,
mukosa dan jaringan lain. Nocireseptor ini terdapat diseluruh jaringan dan
organ tubuh, kecuali di SSP. Dari sini rangsangan di salurkan ke otak melalui
jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron dengan amat benyak sinaps via
sumsumtulang belakang, sumsum lanjutan, dan otak tengah. Dari thalamus impuls
kemudian diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan
sebagai nyeri(Priyanto,2008).
Di bawah ini macam-macam
penggolongan analgetik yaitu:
2.1
Asam
asetat salisilat atau yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin adalah
analgetik antipiretik dan anti inflamasi yang luas digunakan dan digolongkan
dalam obat bebas. Selain sebagai prototip, obat ini merupakan standar dalam
menilai efek obat sejenis.
2.2
Golongan
pirazon
Dalam kelompok ini termasuk dipiron,
fenilbutazon, oksifenbutazon, antipirin dan aminopirin. Antifirin adalah 5–akso-1-fenil-2,8–dimetilpirazolidin.
Aminofirin adalah derivate
metansufonat dari aminopirin yang larut baik dalam air dan dapat di berikan secara
suntikan.
2.3
Golongan
para aminofenol
Derivate para aminofenol yaitu
fenacetin dan asetaminofen (paracetamol) merupakan metabolit fenasetin dengan
efek antipiretik yang sama dan telah di gunakan sejak tahun 1893. Efek
antipiretik ditimbulkan oleh gugus aminobenzen. Fenasetin tidak digunakan lagi
dalam pengobatan karena penggunaanya dikaitkan dengan terjadinya nefropati(Gan
Gunawan, 2007).
Penggunaan
analgetik mampu meringankan atau menghilangkan rasa nyeri tanpa memengaruhi SSP
atau menurunkan kesadaran, juga tidak menimbulkan ketagihan. Kebanyakan zat ini
juga berdaya antipiretis dan/atau antiradang. Oleh karena itu tidak hanya
digunakan sebagai obat anti nyeri, melainkan juga pada demam (infeksi
virus/kuman, selesma, pilek) dan peradangan seperti rema dan encok. Obat-obat
ini banyak diberikan untuk nyeri ringan sampai sedang, yang penyebabnya
beraneka ragam, misalnya nyeri kepala, gigi, otot atau sendi (rema, encok),
perut, nyeri haid, nyeri akibat benturan atau kecelakaan (trauma). Untuk kedua
nyeri terakhir, NSAID lebih layak. Selain itu penggunaan dari analgetik yaitu:
2.1 Daya antipiretiknya berdasarkan
rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di hipothamlamus, yang mengakibatkan
vasodilatasi perifer(di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor yang
disertai keluarnya banyak keringat.
2.2 Daya anti radangnya khususnya kelompok besar dari
zat-zat penghambat prostaglandin (NSAIDs), termasuk asetosal, begitu pula
benzidamin. Zat-zat ini banyak digunakan untuk rasa nyeri yang disertai
peradangan(Tjay dan Rahardja, 2007).
2.3 Kombinasi dari dua atau lebih
analgetika sering kali digunakan, karena terjadi efek potensiasi. Lagi pula
efek sampingnya yang masing-masing terletak di bidang yang berlainan, dapat
berkurang, karena dosis dari masing-masing komponennya dapat diturunkan. Kombinasi
analgetika dengan kofein dan kodein sering kali digunakan, khususnya dalam
sediaan dengan parasetamol dan asetosal(Tjay dan Rahardja, 2007).
Efek
samping analgetika yang paling umum adalah gangguan lambung-usus, kerusakan
darah, kerusakan hati dan ginjal dan juga reaksi alergi kulit. Efek-efek
samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau dalam dosis tinggi. Oleh
karena itu penggunaan analgetika secara kontinu tidak dianjurkan. Interaksi
analgetika kebanyakan memperkuat efek antikoagulansia, kecuali
parasetamol dan glafenin. Kedua obat ini pada dosis biasa dapat dikombinasi
dengan aman untuk waktu maksimal dua minggu(Tjay dan Rahardja, 2007).
III.
Metode
Percobaan
3.1.Alat
3.1.1. Baskom
3.1.2. Hot
plate
3.1.3. Gelas
beker
3.1.4. Jarum
suntik 1 mL
3.1.5. Labu
ukur
3.1.6. Neraca
analitik
3.1.7. Stopwatch
3.2.Bahan
3.2.1. Aquadest
3.2.2. Antalgin
3.2.3. Asam
mefenamat
3.2.4. Ibuprofen
3.2.5. Biogesic
3.2.6. Asam
asetat 30%
3.2.7. Larutan
Na-CMC 0,5%
3.3.Hewan Uji
Mencit
3.4.Cara
Kerja
3.4.1. Metode
Jansen dan Jaqeneau
|
Siapkan dan
timbang hewan uji. Bagi menjadi 5 kelompok, masing-masing 3 ekor.
|
|
Buat larutan stok
Na-CMC 0,5%,
ibuprofen, biogesic, as.mefenamat, dan antalgin.
|
|
Berikan larutan
stok ke hewan uji secara i.p., diamkan selama 15 menit
|
|
Masukkan hewan
uji ke gelas beker pada hot plate, amati setiap 15’’ selama 5x15’’(amati grooming & meloncat)
|
3.4.2. Metode
Witkin et al
|
Siapkan dan
timbang hewan uji. Bagi menjadi 5 kelompok, masing-masing 3 ekor.
|
|
Buat larutan stok
Na-CMC 0,5%,
ibuprofen, biogesic, as.mefenamat, dan antalgin.
|
|
Berikan larutan
stok ke hewan uji secara i.p., diamkan selama 5 menit
|
|
Hewan uji
diinduksi dengan larutan as.asetat 30%
secara i.m.
|
|
Amati jumlah
geliat yang timbul selama 20’ dan tentukan onset dari obat
|
VII.
Daftar
Pustaka
Gunawan, Gan.2011.Farmakologi dan Terapi.UI Press Indonesia
: Jakarta
Priyanto.2008.Farmakologi Dasar.PT Lenskonfi: Jakarta
Tjay dan K.Rahardja.2007.Obat-Obat
Penting.PT Elex Media Komputindo: Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar