Jumat, 31 Agustus 2018

ANALGETIKA


PERCOBAAN II
ANALGETIKA
       I.            Tujuan Percobaan
1.1.Mengenal metode uji daya analgetik pada hewan percobaan dan obat analgetik.
1.2.Mempraktekkan metode uji daya analgetik pada hewan percobaan dan obat analgetik.
1.3.Membandingkan metode uji daya analgetik pada hewan percobaan dan obat analgetik.
    II.            Tinjauan Pustaka
Analgetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (perbedaan dengan anestetika umum). Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman, berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Keadaan psikis sangat mempengaruhi nyeri, misalnya emosi dapat menimbulkan sakit (kepala) atau memperhebatnya, tetapi dapat pula menghindarkan sensasi rangsangan nyeri. Batas nyeri untuk suhu adalah konstan, yakni pada 44-45oC(Tjay,2007).
Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala yang berfungsi melindungi tubuh. Nyeri harus dianggap sebagai isyarat bahaya tentang adanya ganguan di jaringan, seperti peradangan, infeksi jasad renik, atau kejang otot. Nyeri yang disebabkan oleh rangsangan mekanis, kimiawi atau fisis dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan. Rangsangan tersebut memicu pelepasan zat-zat tertentu yang disebut mediator nyeri. Mediator nyeri antara lain dapat mengakibatkan reaksi radang dan kejang-kejang yang mengaktivasi reseptor nyeri di ujung saraf bebas di kulit, mukosa dan jaringan lain. Nocireseptor ini terdapat diseluruh jaringan dan organ tubuh, kecuali di SSP. Dari sini rangsangan di salurkan ke otak melalui jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron dengan amat benyak sinaps via sumsumtulang belakang, sumsum lanjutan, dan otak tengah. Dari thalamus impuls kemudian diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri(Priyanto,2008).
Di bawah ini macam-macam penggolongan analgetik yaitu:
2.1        Asam asetat salisilat atau yang lebih dikenal sebagai asetosal atau aspirin adalah analgetik antipiretik dan anti inflamasi yang luas digunakan dan digolongkan dalam obat bebas. Selain sebagai prototip, obat ini merupakan standar dalam menilai efek obat sejenis.
2.2        Golongan pirazon
Dalam kelompok ini termasuk dipiron, fenilbutazon, oksifenbutazon, antipirin dan aminopirin. Antifirin  adalah 5–akso-1-fenil-2,8–dimetilpirazolidin. Aminofirin   adalah derivate metansufonat dari aminopirin yang larut baik dalam air dan dapat di berikan secara suntikan.
2.3        Golongan para aminofenol
Derivate para aminofenol yaitu fenacetin dan asetaminofen (paracetamol) merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik  yang sama dan telah di gunakan sejak tahun 1893. Efek antipiretik ditimbulkan oleh gugus aminobenzen. Fenasetin tidak digunakan lagi dalam pengobatan karena penggunaanya dikaitkan dengan terjadinya nefropati(Gan Gunawan, 2007).
Penggunaan analgetik mampu meringankan atau menghilangkan rasa nyeri tanpa memengaruhi SSP atau menurunkan kesadaran, juga tidak menimbulkan ketagihan. Kebanyakan zat ini juga berdaya antipiretis dan/atau antiradang. Oleh karena itu tidak hanya digunakan sebagai obat anti nyeri, melainkan juga pada demam (infeksi virus/kuman, selesma, pilek) dan peradangan seperti rema dan encok. Obat-obat ini banyak diberikan untuk nyeri ringan sampai sedang, yang penyebabnya beraneka ragam, misalnya nyeri kepala, gigi, otot atau sendi (rema, encok), perut, nyeri haid, nyeri akibat benturan atau kecelakaan (trauma). Untuk kedua nyeri terakhir, NSAID lebih layak. Selain itu penggunaan dari analgetik yaitu:
2.1    Daya antipiretiknya berdasarkan rangsangan terhadap pusat pengatur kalor di hipothamlamus, yang mengakibatkan vasodilatasi perifer(di kulit) dengan bertambahnya pengeluaran kalor yang disertai keluarnya banyak keringat.
2.2    Daya anti radangnya khususnya kelompok besar dari zat-zat penghambat prostaglandin (NSAIDs), termasuk asetosal, begitu pula benzidamin. Zat-zat ini banyak digunakan untuk rasa nyeri yang disertai peradangan(Tjay dan Rahardja, 2007).
2.3    Kombinasi dari dua atau lebih analgetika sering kali digunakan, karena terjadi efek potensiasi. Lagi pula efek sampingnya yang masing-masing terletak di bidang yang berlainan, dapat berkurang, karena dosis dari masing-masing komponennya dapat diturunkan. Kombinasi analgetika dengan kofein dan kodein sering kali digunakan, khususnya dalam sediaan dengan parasetamol dan asetosal(Tjay dan Rahardja, 2007).
Efek samping analgetika yang paling umum adalah gangguan lambung-usus, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal dan juga reaksi alergi kulit. Efek-efek samping ini terutama terjadi pada penggunaan lama atau dalam dosis tinggi. Oleh karena itu penggunaan analgetika secara kontinu tidak dianjurkan. Interaksi analgetika kebanyakan memperkuat efek antikoagulansia, kecuali parasetamol dan glafenin. Kedua obat ini pada dosis biasa dapat dikombinasi dengan aman untuk waktu maksimal dua minggu(Tjay dan Rahardja, 2007).




     






 III.            Metode Percobaan
3.1.Alat
3.1.1.      Baskom
3.1.2.      Hot plate
3.1.3.      Gelas beker
3.1.4.      Jarum suntik 1 mL
3.1.5.      Labu ukur
3.1.6.      Neraca analitik
3.1.7.      Stopwatch
3.2.Bahan
3.2.1.      Aquadest
3.2.2.      Antalgin
3.2.3.      Asam mefenamat
3.2.4.      Ibuprofen
3.2.5.      Biogesic
3.2.6.      Asam asetat 30%
3.2.7.      Larutan Na-CMC 0,5%
3.3.Hewan Uji
Mencit
3.4.Cara Kerja
3.4.1.      Metode Jansen dan Jaqeneau
Siapkan dan timbang hewan uji. Bagi menjadi 5 kelompok, masing-masing 3 ekor.
Buat larutan stok Na-CMC 0,5%, ibuprofen, biogesic, as.mefenamat, dan antalgin.
Berikan larutan stok ke hewan uji secara i.p., diamkan selama 15 menit
Masukkan hewan uji ke gelas beker pada hot plate, amati setiap 15’’ selama 5x15’’(amati grooming & meloncat)
 












3.4.2.      Metode Witkin et al
Siapkan dan timbang hewan uji. Bagi menjadi 5 kelompok, masing-masing 3 ekor.

 



Buat larutan stok Na-CMC 0,5%, ibuprofen, biogesic, as.mefenamat, dan antalgin.

Berikan larutan stok ke hewan uji secara i.p., diamkan selama 5 menit
Hewan uji diinduksi dengan larutan as.asetat 30% secara i.m.
Amati jumlah geliat yang timbul selama 20’ dan tentukan onset dari obat
 























VII.            Daftar Pustaka
Gunawan, Gan.2011.Farmakologi dan Terapi.UI Press Indonesia : Jakarta
Priyanto.2008.Farmakologi Dasar.PT Lenskonfi: Jakarta
Tjay dan K.Rahardja.2007.Obat-Obat Penting.PT Elex Media Komputindo: Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar