Jumat, 31 Agustus 2018

PENGARUH CARA PEMBERIAN TERHADAP ABSORPSI OBAT


PERCOBAAN 1
PENGARUH CARA PEMBERIAN TERHADAP ABSORPSI OBAT
       I.       Tujuan Percobaan
1.1.  Mengenal cara-cara pemberian obat terhadap kecepatan absorpsinya, menggunakan data farmakologi sebagai tolak ukurnya.
1.2.  Mempraktekkan cara-cara pemberian obat terhadap kecepatan absorpsinya, menggunakan data farmakologi sebagai tolak ukurnya.
1.3.  Membandingkan cara-cara pemberian obat terhadap kecepatan absorpsinya, menggunakan data farmakologi sebagai tolak ukurnya.

  II.          Tinjauan Pustaka
Obat merupakan semua zat baik kimiawi, hewani, maupun nabati yang dalam dosis sesuai dapat menyembuhkan, meringankan, atau mencegah penyakit berikut gejalanya. Beberapa obat dapat menimbulkan efek yang berbahaya bila tidak tepat pemberiannya. Rute pemberian obat terutama dipengaruhi oleh sifat obat, kestabilan obat, tujuan terapi, kecepatan absorbsi yang diperlukan, kondisi pasien, keinginan pasien, dan kemungkinan efek samping. Pemakaian obat dikatakan tidak tepat apabila kemungkinan untuk memberikan manfaat kecil atau tidak ada sama sekali, sedangkan kemungkinan manfaatnya tidak sebanding dengan kemungkinan efek samping atau biayanya(Nafis, et al, 2013).
Perjalanan obat itu sendiri dalam tubuh melalui 4 tahap (disebut fase farmakokinetik), yaitu : (Anief, 2007).
a.    Absorbsi
Yaitu pengambilan obat dari permukaan tubuh atau dari tempat-tempat tertentu dalam organ ke dalam aliran darah atau sistem pembuluh limfe. Dari aliran darah atau sistem pembuluh limfe terjadi distribusi obat ke dalam organisme keseluruhan. Karena obat baru berkhasiat apabila berhasil mencapai konsentrasi yang sesuai pada tempat kerjanya, maka suatu absorbsi yang cukup merupakan syarat untuk suatu efek terapeutik, sejauh obat tidak digunakan secara intravasal atau tidak langsung dipakai pada tempat kerjanya. Dikatakan cukup apabila kadar obat yang telah diabsorbsi tidak melewati batas KTM, yaitu Kadar Toksik Minimum, namun masih beraa di dalam batas KEM, yaitu Kadar Efektif Minimum.
b.    Distribusi
Yaitu proses penyebaran zat aktif yang telah masuk ke peredaran darah ke seluruh tubuh, baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
c.    Metabolisme dan Ekskresi (Eliminasi)
Obat harus melalui proses metabolisme dahulu agar dapat dikeluarkan dari badan. Dimana pada saat inilah badan berusaha merubahnya menjadi metabolit yang bersifat hidrofil agar mudah dikeluarkan melalui sistem ekskresi, misal lewat anus, paru, kulit, dan ginjal.
Absorbsi sebagian besar obat secara difusi pasif, maka sebagai barter absorbsi adalah membran epitel saluran cerna, yang seperti halnya semua membran sel di tubuh kita, merupakan lipid bilayer. Dengan demikian, agar dapat melintasi membran sel tersebut, molekul obat harus memiliki kelarutan lemak (setelah terlebih dulu larut dalam air) (Ganiswara, 2008).
Rute pemberian obat menentukan jumlah dan kecepatan obat yang masuk ke dalam tubuh, sehingga merupakan penentu keberhasilan terapi atau kemungkinan timbulnya efek yang merugikan. Rute pemberian obat dibagi 2, yaitu enternal dan parenteral.(Priyanto, 2008)
a.       Jalur Enternal
Jalur enternal berati pemberian obat melalui saluran gastrointestinal (GI), seperti pemberian obat melalui sublingual, bukal, rektal, dan oral. Pemberian obat melalui oral merupakan jalur pemberian obat yang paling banya digunakan karena paling murah, paling mudah, dan paling aman. Kerugian dari pemberian obat melalui jalur enternal adalah absorbsinya lambat, tidak dapat diberikan pada pasien tidak sadar atau tidak dapat menelan.
b.      Jalur Parenteral
Parenteral berarti tidak melalui enteral. Termasuk jalur parenteral adalah transdermal (topikal), injeksi, endotrakeal (pemberian obat ke dalam trakea menggunakan endotrakeal tube), dan inhalasi. Pemberian obat melalui jalur ini dapat menimbulkan efek sistemik atau lokal. 





























III.          Metode Percobaan
3.1 Alat
a.       Baskom
b.      Gelas beker 250 ml
c.       Labu ukur
d.      Neraca analitik
e.       Sarung tangan
f.       Spuit injeksi dan jarum (1 ml)
g.      Stopwatch
3.2 Bahan
a.       Diazepam  2 mg
b.      Larutan stok CMC
3.3 Hewan Uji
a.       Mencit











3.4

Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok, masing-masing 2 ekor.

Cara Kerja


Hewan uji ditimbang untuk memperhitungkan volume diazepam yang akan diberikan.

Hewan uji dihitung onset dan durasi waktu tidur Diazepam dari masing-masing kelompok.

Bandingkan dengan uji statistik “analisa varian pola searah” dengan taraf kepercayaan 95%


Diazepam diberikan pada hewan uji ditiap kelompok dengan cara oral, s.c., i.m.,i.p., dan i.v.

Hewan uji diamati dan dicatat waktu hilangnya reflek badan serta waktu kembali reflek balik badan.
 



























        IV.          Hasil Praktikum
4.1.Data Hasil Percobaan
Kel.
Cara Pemberian
BB (gram)
Vol. Pemberian
Gerak Reflek
Onset
Durasi
Hilang           Kembali
1

Oral

33,6
0,1 mL
2 menit 11 detik
6 menit 25 detik
2 menit 11 detik
4 menit 14 detik
26,0
1 menit 14 detik
9 menit 16 detik
1 menit 14 detik
8 menit 32 detik
2
Intra peritoneal
27,0
0,1 mL
2 menit
8 menit
2 menit
6 menit
29,5
11 menit 41 detik
14 menit 36 detik
11 menit 41 detik
3 menit 5 detik
3
Intra muskular
29,0
0,05 mL
3 menit 6 detik
3 menit 46 detik
3 menit 6 detik
40 detik
28,6
1 menit 44 detik
2 menit 30 detik
1 menit 44 detik
46 detik
4
Subkutan
25,6
0,05 mL
9 menit 47 detik
11 menit 55 detik
9 menit 47 detik
2 menit 8 detik
5
Subkutan
28,82
0,05 mL
1 menit 30 detik
2 menit 45 detik
1 menit 30 detik
1 menit 15 detik
6
Intra vena
24,6
0,05 mL
4 menit 30 detik
5 menit 32 detik
4 menit 30 detik
1 menit 2 detik
7
Intra vena
29,40
0,05 mL
6 menit 54 detik
7 menit 31 detik
6 menit 54 detik
23    etik






4.2.Perhitungan
Dosis Diazepam
2 mg x 0,00261 = 0,0052mg/20 gram
1.        Perhitungan Volume Pemberian per Oral
a.      Mencit 1 (BB 33,60 gram)
Larutan stok
 
Jadi, 0,87mg dilarutkan dalam air sampai 10 mL.
Volume pemberian
b.      Mencit 2 (BB 26,00 gram)
Larutan stok
Jadi, 0,67mg dilarutkan dalam air sampai 10 mL.
Volume Pemberian
2.        Perhitungan Volume Pemberian Intra Peritoneal
a.      Mencit 1 (BB 27,00 gram)


Larutan stok
Jadi, 0,70mg dilarutkan dalam air sampai 10 mL.
Volume Pemberian

b.      Mencit 2 (BB 29,50 gram)
Larutan stok
Jadi, 0,76mg dilarutkan dalam air sampai 10 mL.
Volume pemberian

3.        Perhitungan Volume Pemberian Intra Muskular
a.      Mencit 1 (BB 29,00 gram)
Larutan stok
Jadi, 1,5 mg CMC dilarutkan dalam air sampai 10 mL.
Volume Pemberian
b.      Mencit 2 (BB 28,60 gram)
Larutan stok
Jadi, 1,48 mg CMC dilarutkan dalam air sampai 10 mL.
Volume pemberian

4.        Perhitungan Volume Pemberian Subkutan
a.      Mencit 1 (BB 25,60 gram)
Larutan stok
Jadi, 1,32 mg CMC dilarutkan dalam air sampai10 mL.
Volume pemberian


b.      Mencit 2 (BB 26,82 gram)
Larutan stok
Jadi, 1,38 mg CMC dilarutkan dalam air sampai 10 mL.
Volume pemberian

5.        Perhitungan Volume Pemberian Intra Vena
a.      Mencit 1 (BB 24,60 gram)
Larutan stok
Jadi, 1,26mg dilarutkan dalam air sampai 10 mL.
Volume pemberian
b.      Mencit 2 (BB 29,40 gram)
Larutan stok
Jadi, 1,52mg dilarutkan dalam air sampai 10 mL.
Volume pemberian

4.3. Hasil Analisis Data
Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic
df1
df2
Sig.
Onset
.
4
.
.
Durasi
.
4
.
.







Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova
Shapiro-Wilk
Statistic
df
Sig.
Statistic
Df
Sig.
Onset
,230
10
,143
,825
10
,029
Durasi
,203
10
,200*
,860
10
,076
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction


















ANOVA

Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
onset
Between Groups
39,142
4
9,786
,597
,681
Within Groups
81,940
5
16,388


Total
121,082
9



durasi
Between Groups
52,642
4
13,161
4,787
,058
Within Groups
13,746
5
2,749


Total
66,388
9





Test Statisticsa,b

Onset
Durasi
Chi-Square
2,945
7,964
Df
4
4
Asymp. Sig.
,567
,093
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: rute pemberian


















  V.          Pembahasan
Pada praktikum ini melakukan percobaan pengaruh cara pemberian terhadap absorbsi obat dengan hewan uji yaitu mencit. Obat yang diberikan yaitu diazepam yang sifatnya larut dalam lemak, dengan lima cara pemberian yaitu peroral, intra peritoneal, subkutan, intra vena, dan intra muskular.
Dari hasil pengamatan masing-masing kelompok diperoleh onset dan durasi yang berbeda. Onset merupakan waktu mulai timbulnya efek setelah pemberian obat, sedangkan durasi adalah waktu lamanya efek sampai efek obat tersebut hilang.  Berdasarkan teoritis onset yang paling cepat adalah intra vena, intra peritoneal, subkutan, dan per oral(Anief,2007). Sedangkan pada percobaan ditemukan yang memiliki onset paling cepat yaitu oral dengan rata-rata membutuhkan waktu 1 menit dibandingkan intra muskular 2 menit, intra vena 5 menit, subkutan 5 menit, dan intra peritoneal 6 menit. Sementara itu durasi yang paling singkat yaitu intra muskular dengan rata-rata membutuhkan waktu kurang dari 1 menit , intra vena 1 menit , subkutan 1 menit, intra peritoneal 4 menit, dan per oral 6 menit. Berdasarkan pengamatan maka hal ini tidak sesuai dengan teoritis.
Adanya variasi onset dan durasi dari tiap-tiap cara pemberian dapat disebabkan oleh beberapa hal, meliputi :
1.        Kondisi hewan uji dimana masing-masing hewan uji sangat bervariasi yang meliputi produksi enzim, berat badan dan luas dinding usus, serta proses absrobsi pada saluran cerna.
2.        Faktor teknis yang meliputi ketetapan pada tempat penyuntikan dan banyaknya volume pemberian pada hewan uji.
Dari pengamatan yang dilakukan didapatkan bahwa mencit yang telah kehilangan reflek balik badan, kadang bangun dan melanjutkan aktivitasnya namun kemudian tidur kembali. Hal inilah yang disebut dengan proses redistribusi obat dalam tubuh, yaitu proses dimana obat dari tempat kerjanya menuju ke jaringan-jaringan yang lain merupakan salah satu faktor yang dapat menghentikan kerja obat.
Dari test yang dilakukan pada percobaan terhadap homogenitas serta normalitas terdapat  homogenitas yang kurang dari 0,05 dan homogenitas lebih dari 0,05, kemungkinan ada terjadi perbedaan yang bermaknaatau sentifikan pada pemberian dari kelima rute pemberian terhadap onset dan hal ini sesuai dengan teoritis berdasarkan hasil statistik. Apabila homogenitas dan normalitas didapatkan hasil yang lebih dari 0,05 maka tidak ada perbedaan yang bermakna dari kelima rute pemberian tersebut.
























VI.          Penutup
6.1.  Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
a.       Cara pemberian obat berpengaruh terhadap kecepatan absorbsi obat, hal ini juga berpengaruh terhadap onset dan durasi.
b.      Onset yang paling cepat dari kelima cara pemberian secara berturut-turut yaitu oral dengan rata-rata membutuhkan waktu 1 menit dibandingkan intra muskular 2 menit, intra vena 5 menit, subkutan 5 menit, dan intra peritoneal 6 menit.
c.       Durasi yang paling singkat dari kelima cara pemberian secara berturut-turut yaitu intra muskular dengan rata-rata membutuhkan waktu kurang dari 1 menit , intra vena 1 menit , subkutan 1 menit, intra peritoneal 4 menit, dan per oral 6 menit.
d.      Cara pemberian obat yang baik apabila onset yang dihasilkan cepat dan durasi dalam obat panjang.













6.2.  Lampiran
1.      Apakah faktor yang dapat mempengaruhi absorbsi obat dari saluran cerna ?
Jawab :
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses absorpsi obat dalan saluran cerna, yaitu:
a.       Bentuk sediaan
Terutama berpengaruh terhadap kecepatan absorpsi obat yang secara tidak langsung mempengaruhi intensitas respon biologis obat.dalam bentuk sediaan yang berbeda, maka proses absorpsi obat memerlukan waktu yang berbeda dan jumlah ketersediaan hayati yang berlainan.
b.      Sifat fisik dan Kimia obat
Bentuk ester, asam dan garam kompleks dari bahan obat dapat mempengaruhi kelarutan dan proses absorpsi obat. Selain itu bentuk kristal/poimorfi kelarutan dalam lemak atau air, dan derajat ionisasi juga mempengaruhi proses absorpsi.
c.       Faktor biologis
pH saluran cerna, sekresi cairan lambung, gerakan saluran cerna, waktu pengosongan lambung dan waktu transit dalam usus, serta banyaknya pembuluh darah pada tempat absorpsi.
d.      Faktor lain
Umur, makanan,adanya interaksi obat dengan senyawa lain dan penyakit tertentu.
2.       Jelaskan bagaimana cara pemberian obat dapat mempengaruhi onset dan durasi obat ?
Jawab:
a.         Per oral. Sebagian besar obat diberikan melalui mulut dan ditelan. Beberapa obat ( misalnya: alkohol dan aspirin ) dapat diserap dengan cepat dari lambung, tetapi kebanyakan obat diabsorpsi sebagian besar melalui usus halus. Absorpsi obat melalui usus halus, pengukuran yang dilakukan terhadap absorpsi obat baik secara in vivo maupun secara in vitro, menunjukan bahwa mekanisme dasar absorpsi obat melalui usus halus ini adalah secara transfer pasif. Di mana kecepatan obat ditentukan oleh derajat ionisasi obat dan lipid solubilitas dari molekul obat tersebut
b.        Pemberian obat secara suntikan intravena. Pemberian obat secara intravena adalah cara yang paling cepat dan paling pasti. Suatu suntikan tunggal intravena akan memberikan kadar obat yang sangat tinggi yang pertama-tama akan mencapai paru-paru dan kemudian ke sirkulasi sistemik. Kadar puncak yang mencapai jaringan tergantung pada kecepatan suntikan yang harus diberikan secara perlahan-lahan sekali. Obat-obat yang berupa larutan dalam minyak dapat menggumpalkan darah atau dapat menyebabkan hemolisa darah, karena itu tidak boleh diberikan secara intravena.
c.         Pemberian obat suntikan subkutan. Suntikan subkutan hanya bias dilakukan untuk obat-obat yang tidak menyebabkan iritasi terhadap jaringan karena akan menyebabkan rasa sakit hebat, bnekrosis dan pengelupasan kulit. Absorpsi melalui subkutan ini dapat pula bervariasi sesuai dengan yang diinginkan.
d.        Pemberian suntikan intramuskuler ( IM ). Obat- obat yang  larut dalam air akan diabsorbsi dengan cepat setelah penyuntikan IM. Umumnya kecepatan absorpsi setelah penyuntikan pada muskulus deloid atau vastus lateralis adalah lebih cepat dari pada bila disuntikkan  pada gluteus maximus. Pemberian suntikan intra-anterial. Kadang-kadang obat disuntikan ke dalam sebuah arteri untuk mendapatkan efek yang terlokalisir pada jaringan atau alat tubuh tertentu. Tetapi nilai terapi cara ini masih belum pasti. Kadang-kadang obat tertentu jug a disuntikan intraarteri untuk keperluan diagnosis. Sutikan intraarteri harus dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli. Pemberian suntikan intratekal. Dengan cara ini oabt langsung disuntikkan ke dalam ruang subaraknoid spinal. Suntikan intratekal dilakukan karena banyak obat yang tidak dapat mencapi otak, karena adanya sawar darah otak(Munaf,1994 ).
e.         Pemberian suntikan intra-peritonial. Rongga peritoneum mempunyai permukaan absorpsi yang sangat luas sehingga obat dapat masuk ke sirkulasi sistemik secara cepat. Cara ini banyak digunakan di laboratorium tetapi jarang digunakan di klinik karena adanya bahaya infeksi dan perlengketan peritoneu(Munaf,1994 ).

3.      Jelaskan keuntungan dan kerugian masing-masing cara pemberian obat !
Jawab :
a.       Cara Pemberian Obat Oral
1)      Keuntungan
a)      Tidak diperlukan latihan khusus
b)      Mudah, ekonomis, tidak perlu steril
2)      Kerugian
a)         Rasa yang tidak enak dapat mengurangi kepatuhan (mual)
b)        Dapat mengiritasi lambung dan usus, menginduksi mual
c)         Pasien harus dalam keadaan sadar.
b.      Cara Pemberian Obat Subkutan
1)      Keuntungan
a)         Diperlukan latihan sederhana
b)        Absorbsi cepat obat larut dalam air
c)         Mencegah kerusakan sekitar saluran cerna
2)      Kerugian
a)      Rasa sakit dan kerusakan kulit
b)      Tidak dapat dipakai jika volume obat besar
c)      Bioavibilitas bervariasi, sesuai lokasi
c.       Cara pemberian Obat Intra Peritoneal
1)         Keuntungan
Obat yang disuntikkan dalam rongga peritonium akan diabsorpsi cepat, sehingga reaksi obat akan cepat terlihat
2)        Kerugian
Resiko kesalahan penyuntikan menyebabkan kerusakan organ
d.      Cara Pemberian Obat Intra muskuler
1)      Keuntungan
Absorpsi berlangsung dengan cepat, dapat diberikan pada pasien sadar atau tidak sadar
2)        Kerugian
a)        Rasa sakit
b)        Tidak dapat dipakai pada gangguan bekuan darah
c)        Bioavibilitas berfariasi.
d)       Obat dapat menggumpal pada lokasi penyuntikan.
e.       Cara Pemberian Obat Intra vena
1)        Keuntungan
a)        Cepat mencapai konsentrasi
b)        Dosis tepat
c)        Mudah mentitrasi dosis
2)         Kerugian
a)      Konsentrasi awal tinggi
b)      Toksik invasiv
c)      Risiko infeksi
d)     Memerlukan tenaga ahli



VII.                   Daftar Pustaka
Anief.2007.Farmasetika.UGM Press:Yogyakarta
Ganiswara,Sulistia G.2008.Farmaologi dan Terapi Edisi Revisi V.Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:Jakarta
Nasif,H.,Yuned,M., dan Muchtar,H.(2013).Kajian Penggunaan Obat Intravena di SMF Penyakit Dalam Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi(Vol.18 No.1 ISSN 1410-0177).Fakultas Farmasi Universitas Andalas:Padang
Priyanto.2008.Farmakologi Dasar Edisi II.Leskonfi:Depok




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar