Jumat, 31 Agustus 2018

ANTIDIARE


PERCOBAAN V
ANTI DIARE

I.         Tujuan Percobaan
a.       Mengenal uji anti diare menggunakan metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini.
b.      Mempraktekkan uji anti diare menggunakan metode proteksi terhadap diare oleh oleum ricini.
II.      Tinjauan Pustaka
Diare merupakan suatu gejala klinis dan gangguan pencernaan yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi, disertai dengan perubahan konsistensi feses menjadi lebih cair/lembek (Fajrin,2012). Dalam definisi lain, diare adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal(meningkat) dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair. Diare selalu diakaitkan dengan dengan gastroenteritis (radang lambung-usus) karena umumnya diare muncul sebagai akibat adanya gangguan pada saluran gastro intestinal (Enda,2010).
Secara fisiologi, dalam lambung makanan dicerna menjadi "bubur" (chymus), kemudian diteruskan ke usus halus untuk diuraikan lebih lanjut oleh enzim-enzim pencernaan. Setelah zat-za gizi diresorpsi oleh villi ke dalam darah, sisa chymus yang terdiri dari 90% air dan sisa makanan yang sukar dicernakan, diteruskan ke usus besar (colon). Bakteri-bakteri yang biasanya selalu berada di sini (flora) mencernakan lagi sisa-sisa (serat-serat) tersebut, sehingga sebagian besar daripadanya dapat diserap pula selama perjalanan melalui usus besar. Airnya juga diresorpsi kembali, sehingga lambat laun isi usus menjadi lebih padat dan dikeluarkan dari tubuh melalui tinja (Tjay dan Kirana,2007).
Berdasarkan klasifikasinya, diare dibagi dalam tiga kelompok yaitu : (Enda,2010)
a.       Berdasarkan adanya infeksi, dibagi atas :
1)      Diare infeksi enteral, yaitu diare karena infeksi di usus misalnya infeksi bakteri (Vibrio cholera, Eschericia coli, Salmonella, dan Shigella), infeksi virus (Rotavirus dan Enterovirus) dan infeksi parasit (cacing, protozoa, dan jamur).
2)      Diare infeksi parenteral, yaitu diare karena infeksi di luar usus misalnya infeksi saluran pernafasan.
b.      Berdasarkan lamanya diare, dibagi atas yaitu :
1)      Diare akut, yaitu diare yang terjadi secara mendadak yang segera berangsur sembuh pada seseorang yang sebelumnya sehat. Diare akut biasanya berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu.
2)      Diare kronis, yaitu diare yang timbul perlahan-lahan berlangsung 2 minggu atau lebih, baik menetap atau bertambah hebat.
c.       Berdasarkan penyebab terjadinya diare, dibagi atas :
1)      Diare spesifik, yaitu diare yang disebabkan oleh adanya infeksi misalnya infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri, parasit dan enterotoksin.
2)      Diare non spesifik, yaitu diare yang tidak disebabkan oleh adanya infeksi misalnya alergi makanan atau minuman (intoleransi), gangguan gizi, kekurangan enzim, dan efek samping obat.
Secara umum diare disebabkan karena gangguan transport air dan elektrolit di usus. Dari sudut pandang mekanik, diare dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu adanya peningkatan tekanan osmotik di dalam usus yang menyebabkan retensi air di dalam lumen, sekresi elektrolit dan air yang berlebihan ke dalam lumen usus (Oktaviani,2016).
Pengobatan diare dibagi dalam dua kelompok, yaitu : (Enda,2010)
a.       Pengobatan spesifik, dilakukan dengan memberikan obat-obat kemoterapeutik setelah diketahui penyebab yang pasti melalui pemeriksaan laboratorium.
b.      Pengobatan non spesifik, dilakukan dengan mengurangi peristaltik otot polos usus, menciutkan selaput lendir usus (astringensia), menyerap racun dan toksik (adsorbensia) dan memberikan cairan elektrolit.    
Kelompok obat yang sering kali digunakan pada diare adalah : (Tjay dan Kirana,2007)
a.       Kemoterapeutika untuk terapi kausal, yakni memberantas bakteri penyebab diare, seperti antibiotika, sulfonamida, dan senyawa kinolon.
b.      Obstipansia untuk terapi simtomatis, yang dapat menghentikan diare dengan beberapa cara, yakni :
1)      Zat-zat penekan peristaltik sehingga memberikan lebih banyak waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa usus, yakni candu dan alkaloidanya, derivat petidin (loperamida), dan antikolinergika (atropin, ekstrak belladonna).
2)      Adstringensia, yang menciutkan selaput lendir usus, misalnya asam samak (tanin) dan tannalbumin, garam-garam bismut dan aluminium.
3)      Adsorbensia, misalnya karbo adsorben yang pada permukaannya dapat menyerap (adsorpsi) zat-zat beracun yang dihasilkan oleh bakteri atau yang adakalanya berasal dari makanan (udang, ikan).
c.       Spasmolitika, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang seringkali mengakibatkan nyeri perut pada diare, contohnya papaverin.









III.   Metode Percobaan
3.1.   Alat
a.       Alat gelas
b.      Baskom
c.       Spuit 1 mL
d.      Kertas saring
e.       Timbangan
3.2.   Bahan
a.    Loperamid
b.    Oleum ricini
c.    Na-CMC
d.   Ekstrak Bawang Dayak
3.3.   Hewan Uji
Mencit jantan atau betina
3.4.   Cara Kerja
 











                                                                          

IV.               Hasil Praktikum
4.1.Perhitungan
a.       Loperamid
Berat tablet = 160 mg ; Dosis = 2 mg
-          Dosis untuk mencit 20 gram = 2 mg x 0,00261 = 0,00522 mg
-          Dosis untuk mencit 35 gram =
Larutan stok maksimal untuk i.p.
                                                  
Jadi, 7,308 mg dilarutkan dalam air sampai 10 mL.
Volume Pemberian
-          Mencit 1 (BB 28,54 gram)
  
-         Mencit 2 (BB 28,34 gram)
  
-         Mencit 2 (BB 25,25 gram)
  

b.      Ekstrak Bawang Dayak
-         Dosis untuk mencit 20 gram adalah  13 mg.
-         Dosis untuk mencit 35 gram adalah


Larutan stok maksimal per oral
 
Volume Pemberian
-          Mencit 1 (BB 23,22 gram)
 
      
-          Mencit 2 (BB 23,50 gram)
 
 
-          Mencit 3 (BB 23,66 gram)
 
 

c.       Ekstrak Bawang Dayak
-          Dosis untuk mencit 20 gram adalah 26 mg.
-          Dosis untuk mencit 35 gram adalah
Larutan stok maksimal per oral
 
Volume Pemberian
-          Mencit 1 (BB 24,45 gram)
 
    
-  Mencit 2 (BB 24,34 gram)

-  Mencit 3 (BB 24,12 gram)


4.2.Data Hasil Percobaan
Kelompok
No.
Bahan Obat
BB
Vol. (mL)
Cara Pemberian
Amati
Waktu (menit)
15
30
45
60
1
1
Loperamid
28,54 g
0,8 mL
i.p.
Konsistennsi
Frekuensi diare
Bobot Feses
Lembek
2
0,06 gram
-
-
-
-
-
-
2
28,34 g
0,8 mL
i.p
Konsistennsi
Frekuensi diare
Bobot Feses
Padat
1
0,01 gram
-
-
-
-
-
-
3
25,25 g
0,72 mL
i.p.
Konsistennsi
Frekuensi diare
Bobot Feses
Padat
1
0,01 gram
-
-
-
-
-
-
-
-
-
2
1
Ekstrak Bawang Dayak
23,22 g
0,7 mL
i.p.
Konsistennsi
Frekuensi diare
Bobot Feses
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
2
23,50 g
0,7 mL
i.p.
Konsistennsi
Frekuensi diare
Bobot Feses
Padat
1
0,01 gram
-
-
-
-
-
-
-
-
-
3
23,66 g
0,7 mL
i.p.
Konsistennsi
Frekuensi diare
Bobot Feses
Padat
1
0,02 gram
-
-
-
-
-
-
-
-
-
3
1
Ekstrak Bawang Dayak
24,45 g
0,6 mL
i.p.
Konsistennsi
Frekuensi diare
Bobot Feses
Lembek
1
0,08 gram
-
-
-
-
-
-
-
-
-

24,34 g
0,6 mL
i.p.
Konsistennsi
Frekuensi diare
Bobot Feses
Padat
1
0,03 gram
-
-
-
-
-
-
-
-
-

24,12 g
0,6 mL
i.p.
Konsistennsi
Frekuensi diare
Bobot Feses
Padat
1
0,01 gram
-
-
-
-
-
-
-
-
-
4
1
Na-CMC
25,86 g
0,5 mL
Oral
Konsistennsi
Frekuensi diare
Bobot Feses
Padat
4
0,14 gram
Cair
-
0,11 gram
Cair
-
0,9 gram
-
-
-
2
31,12 g
0,5 mL
Oral
Konsistennsi
Frekuensi diare
Bobot Feses
Padat
1
0,03 gram
Cair
-
0,15 gram
-
-
-
-
-
-
3
28,34 g
0,5 mL
Oral
Konsistennsi
Frekuensi diare
Bobot Feses
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-















4.3.Data Hasil Uji Analisis Statistik
Test of Homogeneity of Variances

Levene Statistic
df1
df2
Sig.
konsentrasi
5,333
3
8
,026
frekuensi
6,381
3
8
,016
bobot
1,684
3
8
,247

                                 Hasil dari data Test of Homogenity of Variance sig adalah 0,
Hasil dari data Test of Homogenity of Variance untuk konsentrasi sig adalah 0,026 yaitu <0,05 maka data varian tidak terdistribusi homogen. untuk frekuensi sig adalah 0,016 yaitu <0,05 maka data varian tidak terdistribusi homogen. Untuk bobot sig adalah 0,247 yaitu >0,05 maka data varian terdistribusi secara homogen.

Tests of Normalityb,c,d,e

Bahan obat
Kolmogorov-Smirnova
Shapiro-Wilk

Statistic
df
Sig.
Statistic
df
Sig.
konsentrasi
loperamide
,385
3
.
,750
3
,000
ekstrka bawang dayak 26 mg
,385
3
.
,750
3
,000
Na CMC
,385
3
.
,750
3
,000
frekuensi
loperamide
,385
3
.
,750
3
,000
Na CMC
,253
3
.
,964
3
,637
bobot
loperamide
,385
3
.
,750
3
,000
ekstrka bawang dayak 26 mg
,175
3
.
1,000
3
1,000
Na CMC
,175
3
.
1,000
3
1,000
a. Lilliefors Significance Correction
b. konsentrasi is constant when Bahan obat = ekstrak bawang dayak 13 mg. It has been omitted.
c. frekuensi is constant when Bahan obat = ekstrak bawang dayak 13 mg. It has been omitted.
d. frekuensi is constant when Bahan obat = ekstrka bawang dayak 26 mg. It has been omitted.
e. bobot is constant when Bahan obat = ekstrak bawang dayak 13 mg. It has been omitted.
Hasil dari data Test of Normality untuk konsentrasi obat loperamid, ekstrak bawang dayak 26 mg, dan Na-CMC sig adalah 0,000 yaitu <0,05 maka data tidak terdistribusi secara normal. Untuk frekuensi obat loperamid sig adalah 0,000 yaitu <0,05 maka data tidak terdistribusi secara normal, sedangkan Na-CMC sig adalah 0,637 yaitu >0,05 maka data terdistribusi secara normal.  Untuk bobot obat loperamid sig adalah 0,000 yaitu <0,05 maka data tidak terdistribusi secara normal, sedangkan ekstrak bawang dayak 26 mg dan Na-CMC sig adalah 1,000 yaitu >0,05 maka data terdistribusi secara normal.

Test Statisticsa,b

konsentrasi
frekuensi
bobot
Chi-Square
9,500
8,744
9,881
df
3
3
3
Asymp. Sig.
,023
,033
,020
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: Bahan obat








Hasil uji yang didapat pada Kruskal Wallis Test untuk konsentrasi sig adalah 0,023 yaitu  <0,05 maka data tidak dapat diterima. Pada frekuensi sig adalah 0,033 yaitu <0,05 maka data tidak dapat diterima. Pada bobot sig adalah 0,020 yaitu <0,05 maka data tidak dapat diterima.


  V.               Pembahasan
Pada praktikum dilakukan percobaan uji antidiare pada mencit dengan menggunakan metode proteksi oleh oleum ricini. Obat yang digunakan adalah Loperamid HCl 2 mg dan ekstrak dari bawang dayak. Dalam percobaan ini kontrol negatifnya adalah Na-CMC, dan juga masing-masing mencit diberi oleum ricini secara oral dengan dosis 0,75 mL/35 g BB. Pemberian oleum ricini dapat menyebabkan diare karena oleum ricini mengandung trigliserida asam risinolat yang dihidrolisis di dalam usus halus oleh lipase pankreas menjadi gliserin dan asam risinolat sebagai cairan dan elektrolit serta menstimulasi peristaltik usus. Loperamid HCL berkhasiat sebagai obat antidiare dengan bekerja memperlambat proses peristaltik usus sehingga mengurangi frekuensi defekasi dan memperbaiki konsistensi feses.
Dari percobaan didapatkan hasil pada kelompok yang diberi obat loperamid HCl pada 15 menit pertama menghasilkan frekuensi diare dengan total 3 kali, berkonsistensi padat, dan memiliki total bobot feses untuk 3 mencit 0,08 gram dan pada 15 menit selanjutnya tidak menghasilkan feses lagi. Sedangkan kelompok yang diberi ekstrak bawang dayak menghasilkan frekuensi diare rata-rata sebanyak 1 kali dengan konsistensi padat dan memiliki total bobot feses untuk 6 mencit 0,15 gram. Pada kelompok yang diberi Na-CMC 15 menit pertama menghasilkan frekuensi diare sebanyak 5 kali, berkonsistensi padat, dan memiliki total bobot feses untuk 3 mencit 0,17 gram. Tetapi pada 15 menit kedua konsistensi feses menjadi cair dan total bobot feses 0,26 gram.
Pemberian mencit dengan Loperamid HCl dan ekstrak bawang dayak 15 menit berikutnya tidak menghasilkan feses lagi hal ini dikarenakan pengaruh dari Loperamid HCl yang akan menurunkan motilitas usus yang meningkat karena oleum ricini.
Penggunaan obat tradisional ekstrak bawang dayak lebih cepat mengobati diare karena bawang dayak memiliki kandungan tanin yang dapat berfungsi untuk mengobati diare dengan cara menghambat cairan yang keluar dan masuk dari usus. Selain itu dapat juga untuk penawar racun.
Pada uji statistik dilakukan uji homogenitas, normality, dan kruskal dimana untuk hasil homogenitas menghasilkan sig yang berbeda-beda tiap parameter yang diamati, untuk konsentrasi sig adalah 0,026 yaitu <0,05, untuk frekuensi sig adalah 0,016 yaitu <0,05, untuk bobot sig adalah 0,247 yaitu >0,05.
Hasil dari normality menghasilkan sig yang berbeda-beda, untuk konsentrasi obat loperamid, ekstrak bawang dayak 26 mg, dan Na-CMC sig adalah 0,000 yaitu <0,05, untuk frekuensi obat loperamid sig adalah 0,000 yaitu <0,05, sedangkan Na-CMC sig adalah 0,637 yaitu >0,05 untuk bobot obat loperamid sig adalah 0,000 yaitu <0,05, sedangkan ekstrak bawang dayak 26 mg dan Na-CMC sig adalah 1,000 yaitu >0,05.
Hasil dari uji kruskal didapatkan nilai sig yang berbeda-beda, untuk konsentrasi sig adalah 0,023 yaitu  <0,05, pada frekuensi sig adalah 0,033 yaitu <0,05, pada bobot sig adalah 0,020 yaitu <0,05.










 VI.            Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1.      Penentuan efek antidiare pada percobaan ini dilakukan dengan cara menginduksi oleum ricini pada mencit, kemudian diberikan obat sesuai dengan perlakuannya.
2.      Pemberian obat tradisional ekstrak bawang dayak lebih cepat mengobati diare karena terkandung di dalamnya tanin yang berfungsi menghambat cairan yang keluar masuk dari usus, selain itu sebagai penawar racun.
3.      Untuk hasil homogenitas menghasilkan sig yang berbeda-beda tiap parameter yang diamati, untuk konsentrasi sig adalah 0,026 yaitu <0,05, untuk frekuensi sig adalah 0,016 yaitu <0,05, untuk bobot sig adalah 0,247 yaitu >0,05.
4.      Pada obat loperamid hasil normality untuk konsentrasi, frekuensi dan bobot nilai sig 0,000 yaitu <0,05.
5.      Pada obat ekstrak bawang dayak 26 mg hasil normality untuk konsentrasi nilai sig adalah 0,000 yaitu <0,05 dan untuk bobot nilai sig adalah 1,000 yaitu >0,05.
6.      Pada Na-CMC hasil normality untuk konsentrasi nilai sig adalah 0,000 yaitu <0,05, untuk frekuensi nilai sig adalah 0,637 yaitu >0,05, dan untuk bobot nilai sig adalah 1,000 yaitu >0,05.
7.      Hasil uji yang didapat pada Kruskal Wallis Test untuk konsentrasi sig adalah 0,023 yaitu  <0,05 maka data tidak dapat diterima. Pada frekuensi sig adalah 0,033 yaitu <0,05 maka data tidak dapat diterima. Pada bobot sig adalah 0,020 yaitu <0,05 maka data tidak dapat diterima.



DAFTAR PUSTAKA
Enda,W.G.2010.Uji Efek Antidiare Ekstrak Etanol Kulit Batang Salam (Syzygium Polyanthum) Terhadap Mencit Jantan.Skripsi.Universitas Sumatera Utara:Medan
Fajrin,F.A.2012.Aktivitas Antidiare Ekstrak Etanol Daun Seledri (Apium graveolens) Pada Mencit Jantan.Pharmacy.Vol.9(1)
Oktaviani,L.2016.Uji Antidiare Ekstrak Rimpang Rumput Teki (Cyperus rotundus) Dibandingkan dengan Obat Attapulgite Pada Mencit Jantan yang Diinduksi Oleum Ricini.Skripsi.Universitas Lampung:Bandar Lampung
Tjay,T.H.,dan Kirana R.2007.Obat-Obat Penting.Gramedia:Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar